Friday, 10 February 2012

REFORMA AGRARIA INDONESIA, ANTARA WACANA, KEPENTINGAN DAN KONFLIK IDIOLOGIS

oleh : Muhammad Nurjihadi, SP

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Semangat reforma agraria selalu menjadi isu sentral yang mempengaruhi kondisi sosial – ekonomi – politik suatu bangsa sejak ribuan tahun silam. Sebagai contoh, dalam kitab perjanjian lama karya Leviticus diatur bahwa dalam setiap 50 tahun sekali terdapat tahun “jubilee” yang mana pada tahun ini dilakukan redistribusi penguasaan tanah. Dalam beberapa literatur cina kuno banyak disebut tentang redistribusi tanah tiga tahun sekali. Demikian juga dalam sejarah Yunani kuno, Romawi kuno, mesir kuno masa kejayaan Islam hingga masa modern saat ini, isu reforma agraria mendominasi pengaruh sosial politik suatu bangsa. Dari masa ke masa, tentu saja istilah, definisi, konsep serta makna reforma agraria itu berbeda – beda. Bahkan sampai saat ini, setelah ribuan tahun peradaban umat manusia belum ada kesepakatan para ahli tentang istilah, definisi, konsep serta makna reforma agraria. Sebagian ahli menyebutnya sebagai landreform, agrarian development, dan lain – lain (Komisi Agraria SBD, 2004).

Dalam pemaknaannya, sebagian ahli berpendapat bahwa kata agraria yang dimaksud dalam reforma agraria hanyalah sebatas pada masalah – masalah pertanian seperti penguasaan lahan pertanian, produksi pertanian, hingga pemanfaatan sarana prasarana pertanian. Disamping itu, beberapa ahli yang lain berpendapat bahwa agraria yang dimaksud dalam konsep reforma agraria adalah segala sesuatu yang menyangkut lahan, tumbuhan, kekayaan alam, dan lain sebagainya. Dengan kata lain agraria yang dimaksud adalah Sumber Daya Alam (SDA). Sebagian ahli yang lain lagi berpendapat bahwa makna agraria itu hanya sebatas pada redistribusi penguasaan tanah (KA SBD, 2004).
Sejarah reforma agraria di Indonesia telah dimulai sejak zaman kerajaan ratusan tahun lalu. Penguasaan lahan secara mutlak oleh Negara (raja) menjadi ciri khas kebijakan agraria saat itu. Rakyat secara sukarela bersedia untuk mengerjakan lahan Negara tersebut dengan memberikan sejumlah upeti berupa hasil panen kepada pemerintah (raja) sebagai sewa. Meski terkesan feodal, tapi tidak ada protes terhadap konsep tersebut, sebab rakyat memahami bahwa raja merupakan wakil dewa di bumi dan dewa merupakan pemilik seluruh bumi dan seisinya. Perubahan pola berpikir dalam sector agraria mulai terjadi setelah kolonial masuk untuk menguasai sumberdaya agraria Indonesia.

Pada masa kolonial, kekuasaan raja dalam mengeksploitasi sumberdaya alamnya kian terbatas. Hal ini karena pemerintah kolonial menggunakan kekuatan militer untuk memaksa rakyat dan raja - raja Indonesa ketika itu untuk tunduk kepada mereka, terutama dalam eksploitasi sumberdaya alam. Rakyat dijadikan sebagai budak yang harus menyerahkan seluruh hasil panennya kepada pemerintah. Sikap – sikap ketidakadilan ini melahirkan hasrat untuk merdeka. Itulah awal terkonsolidasikannya kekuatan rakyat untuk berperang melawan militer penjajah. Semangat untuk menguasai kembali sumber – sumber agraria menjadi factor paling dominan dalam mengerahkan kekuatan masa rakyat ketika itu.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada pertengahan abad ke 20, pemerintah republik yang baru ini berusaha untuk mengatur ulang konsep penguasaan tanah dan sumber – sumber agraria lainnya oleh rakyat. Konflik idiologis yang berujung pada perang saudara dimasa pemerintahan Soekarno menjadi salah satu bukti bahwa negeri ini masih memiliki masalah tentang konsep kenegaraan dan penguasaan sumber – sumber agrarianya. Pecahnya konflik horizontal ketika itu salah satunya disebabkan juga oleh penguasaan tanah secara paksa oleh sebagian rakyat yang dimobilisasi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara itu, mayoritas rakyat yang tanahnya dirampas adalah tanah wakaf masyarakat muslim. Konflik idiologis ini berakhir tragis dengan tewasnya ratusan ribu bahkan jutaan orang. Sejak saat itu, PKI tidak lagi memiliki tempat didalam hati masyarakat Indonesia.

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa nekatnya para petani yang dimobilisasi PKI untuk melakukan perampasan tanah disebabkan oleh lambannya pemerintah dalam melakukan reforma agraria. Sementara itu disisi lain pemerintah sulit melakukan reforma agraria karena adanya perbedaan pendapat tentang konsep redistribusi lahan pertanian. Dua idiologi yang saling bertentangan dengan keras ketika itu adalah komunis dan Islam. Setelah melewati proses yang berliku dan menelan korban jiwa, PKI akhirnya dibubarkan. Istilah reforma agraria yang sebelumnya diusung oleh PKI menjadi stigma negatif bagi rakyat Indonesia. Reforma agraria selalu identik dengan PKI dan PKI dianggap sebagai musuh rakyat Indonesia.

Karena latar belakang historis yang kelam itulah, para pemimpin negeri ini pasca lengsernya Soekarno sangat berhati – hati dalam menggunakan istilah reforma agraria. Setiap orang atau instansi yang mengusung ide reforma agararia selalu dikait – kaitkan dengan komunis. Begitu sensitif rakyat negeri ini dengan kata komunis. Trauma historis, itulah penyebabnya. Sementara itu, sektor agraria yang merupakan mayoritas aktifitas ekonomi Indonesia harus dapat diatur sedemikian rupa dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, para pemimpin, politikus, dan tokon di negeri ini mencoba merumuskan istilah baru untuk dijual sebagai wacana kepada rakyat. Belakangan muncullah istilah redistribusi tanah yang dianggap memiliki pengertian sama dengan landreform serta pembangunan pertanian (agrarian development) sebagai pengganti reforma agraria.

Dalam perjalanannya, istilah redistribusi tanah dan pembangunan pertanian tak kunjung menemukan konsep yang ideal. Hal ini disebabkan karena terjadi konflik kepentingan dan idiologis dalam perumusan konsep tersebut. Dalam penyusunan konsepnya pemerintah dan parlemen harus mengakomodir kepentingan pengusaha (investor) yang cenderung kapitalistik, kepentingan kebutuhan ekonomi rakyat, kepentingan sosial rakyat serta eksistensi dan posisi Negara. Sangat sulit mencari formulasi ideal agar semua kepentingan itu terakomodir. Inilah akar konflik agraria yang terjadi saat ini di negeri tercinta Indonesia. Jadilah isu reforma agraria sebagai wacana belaka tanpa ujung.

1.2. Masalah
Sebagai Negara agraris, regulasi atas sektor agraria yang adil, memihak kepada rakyat kecil serta tidak bertentangan dengan karakter dan budaya rakyat mutlak diperlukan. Itulah sebabnya, isu redistribusi lahan ataupun reforma agraria menjadi isu strategis yang kerap diangkat ketika Pemilu tiba. Wacana reforma agraria ini tak kunjung berbuah dengan implementasi kebijakan yang real dan adil karena dihadapkan pada berbagai kepentingan dan perbedaan pandangan idiologis. Reforma agraria, sebuah kebutuhan yang hanya menjadi wacana sebagai korban kepentingan dan perbedaan pandangan idiologis. Sungguh ironis.

II. PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Reforma Agraria Indonesia
Pola pembagian wilayah yang menonjol pada masa awal kerajaan - kerajaan di Jawa adalah berupa pembagian tanah ke dalam beragam penguasaan atau pengawasan, yang diberikan ke tangan pejabat-pejabat yang ditunjuk oleh raja atau yang berwenang di istana. Agaknya, pada masa itu konsep "pemilikan" menurut konsep Barat ("property", "eigendom") memang tidak dikenal, bahkan juga bagi penguasa. Karena itu tanah-tanah tersebut bukannya "dimiliki" oleh pejabat-pejabat atau penguasa, melainkan bahwa para penguasa itu dalam artian politik mempunyai hak jurisdiksi atas tanah-tanah dalam wilayahnya yang dengan kekuasaan dan pengaruhnya dapat mereka pertahankan, dan secara teoritis juga mempunyai hak untuk menguasai, menggunakan, ataupun menjual hasil-hasil buminya sesuai dengan adat yang berlaku. Kemudian ada juga tanah-tanah yang diperuntukkan bagi kepentingan keagamaan. Barulah sisanya diperkirakan merupakan wilayah pedesaan yang belum begitu jelas bagaimana organisasi di dalamnya.

Pada masa akhir kerajaan Mataram penguasaan tanah oleh para pejabat terutama dibagi atas dasar sistem appanage yaitu suatu bentuk penguasaan dimana penggunaan atas tanah itu dihadiahkan kepada para pejabat dengan syarat kewajiban membayar upeti kepada penguasa pusat, dalam bentuk sebagian hasil bumi yang dikumpulkan dari para petani. Ketika Belanda (VOC) datang di Indonesia dan terutama sejak tahun 1677 ketika Mataram menjadi daerah protektorat VOC, maka sejak itu peranan pejabat-pejabat daerah sedikit demi sedikit menjadi berubah. Pada masa pertengahan abad-18, ketika VOC memperoleh kekuasaan monopoli perdagangan, Belanda berfungsi sebagai perantara antara berbagai pejabat daerah dengan raja, karena para penguasa daerah itulah yang menjamin penyerahan hasil bumi dari rakyat. Dengan menarik para penguasa daerah ke dalam pengaruhnya maka pada hakekatnya Belanda berhasil membuat agar penyerahan hasil bumi dilakukan langsung kepada VOC, dan dengan demikian mengkonsolidasikan kekuasaannya.

Kebijakan agrara di Indonesia dimulai pada zaman Raffles dengan teori domein-nya yang menerapkan sistem penarikan pajak bumi (1811); kemudian dilanjutkan pada zaman kolonialisme Belanda yang dipelopori Gubernur Jenderal Van den Bosh yang menerapkan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa (1830); dan kemenangan kaum liberal di Belanda yang ingin mengubah sistem tanam paksa di negeri jajahannya menjadi dalam bentuk undang-undang yang disebut Regerings Reglement (1848). Selanjutnya yang terpenting adalah tahun 1870 ketika lahir Agrarische Wet 1870 yang di antaranya memuat agrarische besluit (keputusan tentang pertanahan) yang menyatakan domein verklaring (pernyataan tentang kepemilikan) yang mengalami legalisasi dominasi negara atas sumber-sumber agraria di Indonesia.

Kemudian, baru pada tahun 1960 Republik Indonesia sebagai negara merdeka berhasil memiliki undang-undang yang mengatur sumber-sumber agraria. Pada masa pemerintahan Soekarno telah lahir apa yang dikenal sebagai UUPA 1960 sebagai peraturan pokok agraria secara nasional. Dibuatnya UUPA 1960 ini didasari dengan semangat reforma agrarian pasca kemerdekaan politik Indonesia. Pada era Orde baru (orba), banyak pengamat menyimpulkan bahwa rezim Orba dengan sadar dan sistematis memandulkan semangat populisme yang dikandung UUPA 1960. Lebih jauhnya, penguasa Orba dengan sangat kasat mata mengkhianati semangat yang diamanatkan UUPA 1960 yakni "tanah untuk penggarap". Itu tampak dalam tindakan Orba mengeluarkan berbagai regulasi (UU dan peraturan pelaksanaannya) untuk memfasilitasi kaum pemodal besar ketimbang melindungi kepentingan rakyat kecil yang mati-hidupnya nyata-nyata dari hasil pengolahan tanah, seperti kaum tani, nelayan, dan masyarakat adat. Tanah mereka itulah justru yang digusur untuk kepentingan pemodal besar.

Bergulirnya era reformasi menghendaki juga reforma agraria sebagai salah satu prioritas untuk dilaksanakan. Hal ini ditegaskan dalam Ketetapan MPR No. IX Tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Namun sejak dikeluarkan tahun 2001, reforma agraria masih belum bisa diimplementasikan dengan segera karena berbagai kendala yang ada baik menyangkut kesiapan teknis pelaksanaan dilapangan maupun perangkat aturan yang cenderung masih saling tumpang tindih. Reforma Agraria sudah mendesak dilaksanakan untuk memotong laju kemiskinan yang makin mengkhawatirkan. Sebagian besar tanah di Indonesia kini dikuasai para pemilik modal, sementara kepemilikkan tanah para petani semakin menciut (Joyo Winoto, Tempo 10 Desember 2006).

2.2. Wacana Reforma Agraria
Lepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan pada pertengahan abad ke – 21menyisakan berbagai permasalahan pelik. Salah satu permasalahan yang timbul adalah masalah agraria. Para pendahulu negeri ini memahami betul bahwa konsep dan pola agraria yang diberlakukan semasa pemerintahan kolonial sangat merugikan rakyat kecil di pedesaan. Oleh sebab itu, meski disibukkan oleh aktifitas militer untuk mempertahankan kemerdekaan, Soekarno dan para pendiri bangsa saat itu terus berupaya untuk merumuskan kebijakan agraria yang berkeadilan. Besarnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika itu turut meramaikan wacana reforma agraria di negeri ini. Sejak awal berdirinya negara ini, semangat reforma agraria tidak pernah mati hingga saat ini.

Wacana reforma agraria dimasa orde lama disampaikan oleh Soekarno dalam berbagai kesempatan. Pada acara peringatan proklamasi kemerdekaan RI ke 15 tahun 1960, Soekarno berkata :
“Sesuai dengan hakekat revolusi yang menjebol dan membangun, apakah yang harus kita jebol dan bangun dewasa ini dan di masa datang! Djarek men-jawab bahwa apa yang kita jebol sekarang adalah imperialisme dan feodalisme untuk membangun Indonesia Merdeka penuh yang demokratis. Dan ini merupakan syarat pertama yang mutlak guna selanjutnya menjebol penghisapan atas manusia oleh manusia untuk membangunkan Sosialisme Indonesia. Revolusi Indonesia tanpa Landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi. Melaksanakan landreform berarti melak-sanakan satu bagian mutlak dari Revolusi Indonesia. Tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan, apalagi penghisapan dari modal asing terhadap Rakyat Indonesia”

Pada tahun 1960 ini, untuk pertama kalinya Indonesia berhasil merumuskan dan mengesahkan undang – undang agraria yang dikenal dengan Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. Lahirnya undang – undang ini diharapkan dapat menjadi undang – undang induk agraria di masa depan. Berbagai peristiwa kekisruhan politik saat itu membuat realisasi dari UUPA ini tersendat – sendat. PKI sebagai pengusung gagasan landreform berupaya untuk merebut paksa tanah – tanah milik yang selama ini dikuasai oleh individu atau golongan tertentu. Ironisnya, tanah yang dirampas PKI itu justru sebagian besar adalah tanah wakaf kaum muslimin. Sikap PKI yang memaksa ini kemudian mendapatkan reaksi keras dari kalangan kaum muslimin. Konflik horizontal pun tak dapat dihindarkan. Perang saudara ini menewaskan ratusan ribu bahkan jutaan orang dan berujung pada pembubaran PKI serta pengambilalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto.

Sikap PKI yang memaksa untuk melakukan landreform yang kemudian berujung perang saudara menyisakan stigma negatif terhadap PKI dan gagasannya dimasa orde baru. Gagasan reforma agraria dianggap sebagai gagasan PKI yang kemudian menyebabkan konflik. Kondisi ini diperparah dengan berbagai kampanye negatif pemerintah orde baru terhadap PKI dan orde lama. Hal ini menyebabkan UUPA 1960 benar – benar mandul dan tidak berfungsi. Gagasan reforma agraria yang terkandung dalam UUPA 1960 dialihkan dengan istilah pembangunan pertanian dibawah payung besar gagasan “pembangunan” Soeharto.

Tahun 1998 menjadi tahun menyakitkan bagi Soeharto. Saat itu, rakyat yang sudah ia pimpin selama lebih dari 30 tahun memaksanya untuk mundur dari kursi nyaman presiden. Sikap politik yang dikembangkan Soeharto semasa memerintah, terutama dalam hal agraria menumbuhkan struktur agraria yang tidak berkeadilan. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai gerakan rakyat yang mencoba merebut kembali tanah – tanahnya yang dirampas Soeharto dan investornya. Media massa ramai memberitakan tentang konflik agrarian itu. Semakin diberitakan media, semakin banyak kelompok masyarakat lain di seluruh Indonesia yang melakukan aksi serupa. Upaya perebutan kembali tanah miliknya oleh rakyat menjadi ciri khas masa transisi reformasi Indonesia.
Menyadari semakin meluasnya konflik agraria membuat pemerintah dan para politikus memberikan perhatian khusus terhadap isu ini. Istilah reforma agraria pun kembali ramai diucapkan oleh para politikus. Wacana reforma agraria kembali menggeliat dan menjadi isu strategis untuk dimainkan dalam upaya memenangkan pertarungan politik di kancah Pemilu. Rezim Gus dur, Megawati hingga rezim SBY yang berkuasa saat ini juga menggunakan isu reforma agraria sebagai senjata pemenangan meski dengan pengistilahan yang berbeda. Sampai saat ini, reforma agraria tidak pernah terjadi. Reforma agrarian tetap hanya menjadi wacana, wacana dan wacana untuk menghibur rakyat Indonesia yang sudah resah dengan permasalahan agraria.

2.3. Kepentingan Dalam Reforma Agraria
Reforma agraria menjadi sebuah wacana yang hangat diperbincangkan tidak kunjung terealisasi di negeri ini. Banyaknya kepentingan menjadi penghalang utama kenapa isu reforma agraria tidak juga dapat direalisasikan. Jangankan terealisasi, konsep yang jelas dan baku sebagai standar realisasi pun belum dapat dirumuskan oleh negeri ini. Terhalangnya perumusan konsep ini disebabkan karena terlalu banyaknya pihak yang berkepentingan dan berupaya mempengaruhi hasil konsep agraria yang dibuat. Tentu saja hal ini dilakukan untuk mengamankan posisi serta mempertahankan status quo kelompok tertentu. Beberapa kepentingan yang saya maksud diantaranya adalah :

1. Pengusaha / investor
Sebagai seorang pengusaha, tentu saja motivasi utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya. Sektor agraria dengan pengertiannya yang luas merupakan sumber penghasilan para pengusaha. Jika gagasan reforma agraria sebagaimana yang tercantum dalam UUPA 1960 dilakukan tentu saja akan merugikan para pengusaha. Dengan demikian, para pengusaha tersebut berusaha melakukan segala daya dan upaya untuk mempengaruhi konsep agraria yang dirumuskan pemerintah maupun parlemen. Termasuk diantaranya adalah dengan memberikan uang sogokan kepada para perumus konsep agraria itu.

2. Politikus
Pada dasarnya para politikus itu menjadi politikus untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan kata lain untuk mempertahankan status quo atau kepentingan individu dan kelompoknya. Panggung politik Indonesia diwarnai dengan berbagai idiologi politik. Mulai dari idiologi Islam, nasionalis sekuler, hingga sosialis dengan berbagai bentuknya. Untuk mengamankan posisi atau status quo golongan yang diwakilinya, para politikus (yang berperan dalam merancang konsep agraria) akan berusaha memasukkan kepentingannya dalam rumusan yang dibuat itu. Inilah yang menjadi penghalang terbentuknya rumusan reforma agraria di Indonesia. Meski demikian, perlu diketahui bahwa UUPA 1960 juga merupakan produk kepentingan dari PKI.


3. Petani / rakyat kecil
Petani sebagai pelaku utama serta sasaran utama kebijakan agrarian tentu saja memiliki kepentingan dalam rumusan agraria. Sebagai golongan yang termarjinalkan, petani tidak punya akses untuk ikut merumuskan rumusan agraria itu. Sehingga para petani hanya mampu berharap agar kepentingan – kepentingan besar mau mengakomodir kepentingan mereka. Meski demikian, para petani umumnya memperjuangkan kepentingannya ini dengan melakukan aksi – aksi massa untuk memberikan pressure kepada pemerintah seperti dengan demonstrasi, mogok kerja buruh, dll.

2.4. Reforma Agraria dan Benturan Idiologis
Setelah Indonesia mendapat pengakuan kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1949, Indonesia dihadapkan pada masalah politik baru. Front – front perjuangan rakyat yang sebelumnya berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan justru menjadi kekuatan politik pemberontak negara. Hal ini disebabkan karena kekecewaan kelompok – kelompok pemberontak tersebut terhadap pemerintah dibawah pimpinan Soekarno yang lebih dekat dengan PKI. Pada dekade tahun 1950-an, negara membentuk badan konstituante yang bertugas untuk merancang konstitusi baru Indonesia. Selama Sembilan tahun, badan ini tak kunjung menemui kesepakatan tentang konstitusi negara karena perbedaan pandangan idiologis. Masalah agraria, menjadi salah satu poin pembicaraan yang cukup alot ketika itu. Puncaknya, pada tanggal 17 agustus 1959 presiden mengeluarkan dekrit yang salah satu isinya adalah membubarkan badan konstituante tersebut.

Bubarnya badan konstituante semakin memperparah benturan idiologis antar golongan ketika itu. Masyumi sebagai golongan Islam terbesar dibubarkan Soekarno dengan alasan yang tidak begitu jelas. Dibubarkannya Masyumi menimbulkan pemberontakan baru dari golongan Islam kepada pemerintahan Soekarno. Sementara itu, disisi lain PKI semakin impresif melakukan upaya – upaya propokatif untuk berkuasa penuh di Indonesia. Salah satu langkah yang diambil PKI adalah dengan merampas tanah – tanah wakaf milik kaum muslimin untuk dimanfaatkan secara komunal. Seruan perlawanan atas nama “jihad” dikumandangkan oleh hampir seluruh organisasi massa Islam. Akibatnya perang saudara tidak dapat terhidarkan. Kondisi diperparah dengan pernyataan perang Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kepada PKI dibawah pimpinan Jenderal Soeharto. PKI dan massa-nya kian terpuruk, ratusan ribu PKI dilaporkan meninggal dalam tragedi itu. Bahkan laporan lain menyebutkan jumlah angka yang mengejutkan, 1.500.000 orang PKI meninggal. Secara struktur PKI pun dibubarkan dan menjadi partai dan idiologi terlarang di Indonesia.

Setelah Soeharto mengambilalih kekuasaan dari Soekarno yang dianggap komunis, Soeharto menerapkan asas tunggal idiologi bangsa yang disebut idiologi/asas pancasila. Dalam prakteknya, asas pancasila yang dimaksud Soeharto justeru lebih tepat disebut sebagai idiologi kapitalis. Dengan selogan pembangunan, Soeharto menipu rakyat Indonesia dengan menjual tanah – tanah dan sumber – sumber agraria lainnya kepada asing. Akibatnya terjadi ketimpangan kepemilikan tanah. Banyak rakyat kecil yang kehilangan tanahnya karena dirampas oleh Soeharto dan investornya dengan alasan pembangunan.

Ketika Soeharto mundur dari jabatan presiden, dia menginggalkan masalah pelik dalam sektor agraria, terutama dalam hal kepemilikan tanah. Akibatnya terjadi banyak konflik agraria di era reformasi. Munculnya konflik demi konflik agraria pasca runtuhnya rezim otoriter Soeharto membuat pemerintah membentuk suatu badan yang menangani masalah pertanahan yaitu Badan Pertanahan Nasional (BPN). Saat ini, meski BPN sudah berusia sekitar delapan tahun, konflik agraria yang menyangkut kepemilikan tanah tetap marak terjadi. Konflik demi konflik agraria ini akan terus terjadi sampai negeri ini mampu menjalankan reforma agraria. Adapun syarat suksesnya reforma agraria adalah :

1. Kemauan Politik Pemerintah yang kuat
Syarat dasar dan utama bagi berjalannya reforma agraria harus bertitik tolak dari kemauan politik pemerintah yang kuat sebagai pemegang otoritas. Pemerintah harus mampu menyediakan iklim dan infrastruktur pelaksanaan program yang melibatkan semua elemen birokrasi yaitu instansi-instansi teknis terkait, masyarakat petani dan pihak-pihak berkepentingan lainnya seperti lembaga keuangan yaitu bank, koperasi dan sebagainya. Siapapun yang memegang tampuk pemerintahan harus menempatkan reforma agraria sebagai suatu keharusan untuk dijalankan dan tidak memandangnya sebagai komoditas politik yang sarat kepentingan sesaat sehingga lemah dari sisi perencanaan maupun pelaksanaanya serta tidak memiliki kontinuitas yang memadai. Hal yang juga perlu digaris bahwahi adalah jangan sampai ada pertarungan kepentingan dan ego sektoral antar instansi teknis pemerintah yang masing-masing berjalan sesuai dengan kemauannya sendiri tanpa ada suatu garis koordinasi yang jelas sehingga tidak terdapat mata rantai yang solid dan kokoh dalam implementasi reforma agraria yang sudah diprioritaskan untuk dilaksanakan.

2. Dukungan Teknis bagi Modal dan Produksi
Departemen teknis dalam hal ini Departemen Pertanian harus lebih giat melakukan kompetensinya yaitu membantu petani tentang bagaimana menghasilakan produktivitas yang setinggi-tingginya pada satu bidang tanah/lahan dengan merekayasa segala bentuk input produksi mulai dari teknologi pertanian, kredit usaha, ketrampilan petani sampai kepada perbaikan pasar dan sistem informasi pasar. Land reform dengan redistribusi tanahnya hanya akan menjadi program yang sia-sia jika dukungan infrastruktur dan kelembagaan pertanian tidak tersedia.

3. Membuka Akses Pasar kepada Petani
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah kemana petani akan membawa hasil produksinya. Maka akses kepada pasar harus benar-benar diberikan, sehingga petani tidak akan lagi dipermainkan oleh tidak adanya pasar dengan harga rasional yang bisa menampung produksinya sehingga kesejahteraan tidak tercapai. Dalam hal ini sekali lagi keseriusan dari pihak-pihak terkait akan sangat menentukan.

4. Penguatan kelembagaan Pengelola Reforma Agraria
Sebagai suatu program nasional yang membutuhkan 'kekuatan' dalam implementasinya, maka sudah seharusnya apabila lembaga teknis yang terkait didalamnya juga memiliki kekuatan didalam peranan, otoritas dan fungsi-fungsinya. Hal ini juga menunjuk kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) yang nantinya akan menjadi 'pemain kunci' dalam implementasi program reforma agraria. Status Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen harus segera ditingkatkan atau dikembalikan kepada Kementerian Agraria agar peranannya semakin kuat dan seimbang dengan Departemen lain dalam melakukan koordinasi. Revitalisasi fungsi BPN juga perlu digalakkan agar tidak hanya 'mengurusi' sertifikat tanah sebagai sebuah produk akhir, melainkan lebih luas dari itu, mampu memfasilitasi pencapaian sebuah tujuan yang lebih besar lagi yaitu kemakmuran rakyat dan pengelolaan sumber daya agraria yang berkeadilan.

Monday, 30 January 2012

ANALISA TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI

oleh : Muhammad Nurjihadi, SP

Fenomena kemiskinan adalah salah satu ciri khas dari bangsa Indonesia. Kekayaan alam yang melimpah tidak menjadi jaminan Negara ini akan aman dari kemiskinan. Berbagai teori mengungkapkan bahwa fenomena kemiskinan ini merupaakan reward dari kesediaan kita mengikuti sistem ekonomi internasional yang tidak egaliter. Dimana, sebagian besar asset di Negara kita dikuasai oleh segelintir orang , sedangkan sebagian kecilnya baru dikuasai oleh lebih dari 95% penduduk Indonesia.

Memerangi kemiskinan adalah program unggulan sekaligus senjata ampuh bagi pemerintah untuk mempertahankan hegemoni kekuasaannya. Sehingga, banyak program yang dilakukan dalam upaya pengentasan kemiskinan ini, salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang di canangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tahun 2007. Program iini menitik beratkan pada pentingnya partisipasi masyarakat dalam meningkatkan taraf / kesejahteraan hidupnya.

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam melihat perkembangan PNPM Mandiri. Dan Dalam Kritik Paradigma PNPM Mandiri (Critique On Paradigma Of PNPM Mandiri) yang dipaparkan oleh Ivanovich Agusta tentang Neoliberalisme dalam Penanggulangan Kemiskinan (Neoliberalism within Poverty Alleviation Programs)
Memang benar Paradigma pemberdayaan yang sesuai dengan strukturalisme ialah pemberdayaan struktural. Dalam pemikiran ini struktur masyarakat dilihat berbentuk hierarkis. Ada kelompok dominan yang menindas kelas, suku, gender, dan lapisan bawah lain. Kekuasaan dimaknai sebagai adanya kelompok dominan yang seakan-akan memiliki hak untuk menindas. Oleh karena itu pemberdayaan diwujudkan dalam rupa pembebasan, melawan penindasan struktural, dan menyusun perubahan struktur hierarkis masyarakat secara mendasar.

Paradigma pembangunan alternatif, yang selanjutnya biasa juga dinamakan pembangunan yang berpusat pada manusia, merumuskan kondisi akhir pembangunan pada saat seluruh anggota masyarakat maupun kelompok mampu merealisasikan potensi-potensi mereka. Perubahan sosial akan dilakukan melalui praktek pemberdayaan. Oleh karena itu pembangunan berperan sebagai proses pemberdayaan individu dan kelompok. Pembangunan akan dijalankan melalui individu-individu maupun gerakan masyarakat.

Paradigma pemberdayaan alternatif bersesuaian dengan paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia. Di sinipun masyarakat dipandang sebagai kelompok-kelompok yang tersusun secara hierarkis. Berbeda dari paradigma struktural yang mengandaikan solidaritas dan pertentangan kelas, pemberdayaan alternatif mengandaikan solidaritas antar lapisan, sehingga memungkinkan pola kerjasama seluruh pihak dalam masyarakat. Kekuasaan juga tidak dimaknai sebagai kemampuan untuk mempengaruhi atau mengarahkan pihak lain, melainkan sebagai kemampuan untuk meningkatkan dan menjaga solidaritas sosial di antara lapisan masyarakat tersebut. Dengan demikian pemberdayaan diarahkan kepada pengejawantahan potensi atau kemandirian kelompok dan anggota masyarakat, disertai pengembangan jaringan antar kelompok tersebut.

Melalui PNPM Mandiri diharapkan akan tercipta kemandirian masyarakat yang pada akhirnya akan berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Namun, dalam prakteknya harapan ini kian jauh dari kenyataan. Tidak semua masyarakat Indonesia dapat menerima bantuan pemerintah ini. Ada kecenderungan bahwa penerima program bantuan ini adalah orang – orang yang dekat dengan pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun di desa – desa.

Saat ini banyak program PNPM Mandiri yang sudah bejalan dan berkembang pesat dimasyarakat. PNPM Mandiri hampir semuanya bergerak di sektor infrastruktur dan industri kecil. Dengan adanya PNPM Mandiri, diharapkan program-program yang berjalan di masing-masing Kementerian/Lembaga yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dengan standar operasional yang berbeda diharapkan dapat disatukan dan terintegrasi. Melalui PNPM Mandiri dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek upaya penanggulangan kemiskinan.

Secara umum pelaksanaan PNPM Mandiri sudah cukup baik. Namun ke depan perlu dilakukan perbaikan – perbaikan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Untuk mengurangi resiko tidak sampainya program ini kepada sasaran yang sudah ditentukan, maka pemerintah perlu melakukan pemantapan dan perbaikan dalam hal pelaksanaan teknis penyaluran bantuan. Selain itu, pemerintah juga harus bisa memperjelas atau memberikan tolak ukur masyarakat yang seperti apa yang akan menerima bantuan ini. Sebab sampai sejauh ini, data penerima PNPM mandiri banyak dipermasalahkan karena dianggap tidak adil. Selain pemantapan konsep, pemerintah juga perlu melakukan evaluasi secara continue terhadap pelaksanaan program ini. Kurangnya pengawasan menjadi penyebab banyaknya terjadi penyimpangan dalam proses pelaksanaan program.

Hal lain yang tidak kalah penting yang harus segera diperbaiki adalah pendataan penduduk miskin yang berhak menerima bantuan melalui program – program PNPM Mandiri. Salah satu program PNPM yang banyak bermasalah adalah Bantual Langsung Tunai (BLT). Sejak pertama kali dilakukan penyaluran bantuan ini, terjadi banyak masalah, bahkan ada yang berujung pada konflik dan perusakan fasilitas umum. Hal ini dipicu karena penerima bantuan tidak tersebar merata secara adil. Selain itu, masalah lain yang timbul dengan adanya bantuan ini adalah adanya indikasi korupsi. Dimana pemerintah yang ada ditingkat desa memotong jumlah bantuan yang diberikan kepada warganya dengan berbagai dalih. Padahal pemerintah pusat telah memerintahkan untuk memberikan bantuan itu secara utuh. Masih banyak hal yang harus diperbaiki pemerintah agar program PNPM Mandiri dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

Wednesday, 7 December 2011

Part 4. SEPUCUK SURAT UNTUK IBU

Oleh : Muhammad Nurjihadi

Hari itu aku di ajak oleh kakak misanku untuk pergi ke sawah. Meski hanya untuk sekadar ikut-ikutan dan membantu sebisanya, aku sering ikut dengan Tamam. Dia anak dari bibikku. Ketika itu dia sudah kelas empat SD, satu kelas dengan kakakku, Dina. Dia sosok yang lugu, culun, dan penglihatannya kurang bagus, dia memang rabun. Saat itu, aku di ajaknya untuk mencabut sisa-sisa tanaman mentimun yang sudah habis masa produksinya. Bagiku pekerjaan ini tidak terlalu berat. Meskipun batang tanaman mentimun juga cukup gatal. Kami bekerja dari pagi sampai siang. Hari itu memang hari minggu, kami tidak masuk sekolah. Satu persatu pohon timun yang tua itu kami cabut dan kami kumpulkan lalu kami bakar. Itulah teknis yang di ajarkan kepada kami. Padahal sebenarnya batang timun itu tidak perlu di bakar, tapi di benamkan dalam tanah sebagai pupuk yang dapat menambah kesuburan tanah. Tapi tidak ada yang mengerti tentang itu. Sudah menjadi kebiasaan ketika itu bahwa semua sisa tanaman harus di bakar.

Saat terik mulai memaksa cairan tubuh kami keluar, letih pun menghantui kami yang sedang sibuk di tengah ladang terbuka itu. Tepat ketika sang surya ada di atas kepala, aku di ajak oleh Tamam untuk istirahat. Di masa istirahat ini aku kemudian di ajaknya ke sebuah sungai yang jaraknya sekitar 500 meter dari sawah itu. Sungai ini memang tempat kami biasa istirahat di kala siang saat kami pergi ke sawah, baik hanya untuk main atau untuk banti-bantu. Selain karena suasananya yang sejuk, lokasi ini juga tersedia tempat untuk salat. Tapi aku tak langsung salat. Aku sejenak merenung, mengingat ketika tiga tahun yang lalu ibuku datang jauh dari Mataram untuk menjenguk anak-anaknya. Ya, itulah aku, aku memang terbiasa merenung sejak masa kanak-kanakku. Yang ada dalam benakku ketika itu, tidak bisa kah bapak dan ibu kandungku rujuk kembali. Aku mau hidup bersama dengan mereka. Entah kenapa, air mataku menetes dan membasahi pipi. Aku larut dalam renungan dan terbuai dengan impian sederhana yang memaksa air mataku harus keluar tanpa ku niatkan.

Aku tidak tahu kalau ternyata Tamam memperhatikanku dari tadi. Tapi dia tidak menggangguku. Dia membiarkanku menikmati air mata anugerah ini. Aku pun semakin larut dalam lamunan. Tidak terasa air mata yang keluar semakin deras. Ku usap mataku dengan sarung yang ku kenakan dan tak pernah ku ganti bahkan lebih dari dua bulan. Sarung serba guna itu pun kuyup.
“ buarrrrrrrrrr...” sebuah suara menyadarkanku dari lamunan yang membuahkan air mata itu
“apa itu...??” tanyaku spontan
Tepat di sampingku satu buah mangga jatuh dari pohonnya. Ia langsung terbelah. Merah menyala, ah sepertinya sangat manis bila dimakan. Apa lagi aku dan Tamam belum sarapan dari pagi. Kami kemudian menikmati rezeki nomplok itu. MasyaAllah.... begitu lezat mangga itu. Meski agak kecut, tapi rasanya hampir tak bisa ku gambarkan lewat cerita ini, begitu lezat. Mungkin karena saat itu kami belum makan.
Aku teringat bahwa ternyata aku belum salat. Selesai menikmati buah mangga itu, aku kemudian mengambil air wudlu’ di sungai. Ketika berwudlu’ ku temukan sebuah pulpen di atas batu yang membelah aliran air di sungai itu. Selesai berwudlu’ ku sempatkan diri untuk mengambil pulpen itu.
“ Jihad, aku duluan ya, ibuku nunggu di sawah, Ga’ ada orang disana..” ucap Tamam
“ Iya sudah...” jawabku lemas. Aku tidak rela di tinggal sendiri di sungai itu
“ Kamu cepetan ya...!!” perintahnya sambil berlari meninggalkanku.
Akupun bergegas naik dari sungai menuju sebuah batu besar yang ada di pinggirnya. Batu ini lah yang kumaksud tempat salat yang tersedia disana. Ku rapikan sarung serbagunaku lalu ku angkat kedua tanganku seraya mengucapkan “ALLAHUAKBAR...”.

Dalam salat, pikiranku ku arahkan pada sosok seorang wanita yang pernah menemuiku 3 tahun yang lalu. Sedikit pun tidak ada Tuhan yang ku sembah dalam benakku ketika itu. Aku memang tidak bisa bahkan tidak mengerti bagaimana salat yang khusyu’. Ku tolehkan wajahku ke kanan dan ke kiri sambil mengucap salam, meskipun aku ragu apakah rakaat salatku sudah benar. Aku tidak langsung berdo’a. Tapi lagi-lagi aku merenung. Siswa kelas dua SD yang baru berusia lima tahun sepertiku tak cukup mampu untuk melaksanakan ibadah dengan baik. Ku tatap sebuah pohon besar yang ada di depanku. Di sekelilingnya tumbuh beberapa tanaman yang ukurannya lebih kecil darinya. Di bawahnya, berbagai binatang hidup berkeliaran, bahkan akarnya yang dalam tidak sedikit menyimpan dan menyuplai air untuk sungai yang ada di bawahnya. Yang ku pikirkan betapa beruntungnya binatang-binatang itu bisa berteduh di bawah pohon yang besar itu. Sementara di pucuk sana sang pohon harus menahan panasnya terik matahari siang itu. Bahkan ia harus rela membiarkan daun-daunnya rontok. Aku belum paham bahwa pohon itu juga memang membutuhkan sinar itu.

Entah karena apa, aku jadi berpikir bahwa pohon yang besar itu adalah seorang ibu, dan binatang-binatang yang berteduh di bawahnya adalah anak-anaknya. Aku kembali menangis karena merasa tidak seberuntung binatang itu. Dalam benakku, bahkan binatang jauh lebih beruntung daripada aku. Hatiku galau, gundah tak karuan. Setiap pikiran dan imajinasiku tertuju pada sosok seorang wanita yang penuh wibawa di mataku. Dialah ibuku. Kerinduanku akan sosok sang ibu kembali mencuri energiku untuk memikirkannya. Tak terhitung sudah berapa banyak air mata yang harus ku buang sia-sia hanya untuk merenungkan seorang ibu. Seorang ibu yang bahkan memelukku untuk terakhir kalinya tiga tahun yang lalu.

Aku teringat polpen yang ku temukan tadi, lalu ku ambil sebuah daun kering yang di rontokkan oleh pohon besar di depanku. Di atas daun itu ku tulis sebuah prasasti sebagai untaian kalimat yang datang dari lubuk hati. Niatku tak lain adalah agar ia bisa di baca oleh ibuku di ujung barat sana. Ku pikir sungai-sungai yang ada saling sambung satu sama lain dan bermuara di Mataram. Kebetulan di tempat ibuku tinggal, dekat dengan sungai kecil. Dalam selembar daun kering itu aku menulis
“ Aku merindukanmu ibu...!!
Jihad...”

Dengan penuh harap ku dekati air yang mengalir di depanku, lalu ku hanyutkan selembar daun yang akan membawa isi hatiku itu kepada ibuku. Tidak ku sadari, Tamam ada di belakangku. Ketika daun itu sudah hanyut, ia berlari mengikuti arah aliran air. Dia seperti mengejar sesuatu. Setelah mengejarnya cukup jauh, ia dapatkan benda yang ia cari itu. Itulah goresan hatiku, sebuah lembaran dari daun kering yang rontok.
Ku lihat dari kejauhan, ia menangis. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku bahkan tidak tau, kalau benda yang di kejarnya itu adalah surat ku untuk bunda. Ia mendekatiku, lalu menatapku dalam dan mengatakan
“ ibumu sedang merindukanmu...!!”
Aku jadi terharu, ku lempar sebuah senyum has ku untuknya, lalu ia balas dengan memegang pundakku sambil memaksa bibirnya agar terlihat senyum, padahal dia sedang menangis. Ku kira, dia bisa membaca jalan pikiranku. Ternyata dia membawa surat yang ku hanyutkan tadi. Aku kemudian di ajaknya kembali ke sawah, karena di sana makanan sudah siap, iya, bibiku yang membawakannya, ibunya Tamam.

Aku makan dengan lahap, sementara itu, Tamam dan ibunya asyik ngobrol. Tamam menceritakan semua yang ku lakukan tadi kepada ibunya. Tak heran, bibikku itu kemudian ikut terharu dan menangis. Ia mendekatiku, lalu memelukku dengan hangat, ia kemudian berbisik di telingaku dengan lembut
“ sabar nak,,,,!!”
Ku lepas piring yang isinya sudah ku makan habis. Bibikku kemudian meminta Tamam untuk mengajakku pulang, padahal pekerjaan sebenarnya masih banyak. Rasa harunya berkembang menjadi rasa kasihan padaku. Sehingga aku di mintanya harus pulang.
“ini suratmu kan...?” tanya Tamam sembari menyodorkan daun kering yang bertuliskan isi hatiku tadi. Aku kaget,
“kenapa kamu ambil...?” tanyaku lantang
“maaf, aku Cuma mau tau apa yang kamu tulis” jawabnya lucu
“aku tidak terima, kamu harus kembalikan sekarang” pintaku dengan sedikit memaksa
“iya sudah....” jawabnya, ia lalu berbalik dan berlari kencang ke sungai
“tunggu.....!!!” teriakku,” aku ingin ikut...! ” sambungku. Aku berlari dengan kencang menyusul Tamam.
Sesampai di sungai aku kembali melepaskan surat itu di atas air yang sedang mengalir. Ku pandangi ia yang berjalan beriringan dengan aliran air. Aku tersenyum, yang di balik senyum itu tersimpan harapan bahwa surat itu akan sampai pada ibuku.
“kamu jangan cerita ke siapa-siapa lagi...!!!” pintaku ke Tamam
“ OK bos” jawabnya

Setelah itu kami langsung pulang berdua melewati pematang demi pematang di areal persawahan di desa kami. Kami saling kejar dan saling lempar bahkan saling ejek. Lelah tak kami rasakan. Keharuan sirna di bungkus kegembiraan. Biar bagaimanapun, aku hanya lah bocah lima tahun yang duniaku adalah bermain.

Friday, 21 October 2011

Neoliberalisme dan Agenda Yahudi, Musuh Keadilan

Oleh : Muhammad Nurjihadi
Saya teringat beberapa tahun lalu ketika mahasiswa di seluruh Indonesia disatukan dalam satu isu besar yaitu skandal Bank Century. Saat itu, hampir setiap hari kita mendengar suara penolakan terhadap paham neoliberalisme yang ditengarai menjadi paham para pengambil kebijakan ekonomi di negeri ini. Teriakan-teriakan anti neolib itu terus dikumandangkan dengan berbagai media dan strategi. Unjuk rasa, diskusi-diskusi, hingga tulisan di dunia maya menghiasi hari-hari kita ketika itu. Tapi apa semua orang yang berbicara tentang neoliberalisme ekonomi itu paham dengan apa itu neoliberalisme..?? saya kira tidak semua mereka yang ikut dalam gelombang penolakan neoliberalisme itu paham dengan apa yang mereka teriakkan. Kalaupun paham, kepahaman mereka hanya sebatas ikut-ikutan, mengulang perkataan orang yang pernah berbicara sebelumnya dengan tema yang sama. Disadari atau tidak, itulah yang menyebabkan ketidakjelasan arah gerakan anti neoliberalisme saat itu.

Istilah neoliberalisme mulai digunakan pada dekade 1990-an bersamaan dengan merebaknya ide globalisasi di barat (edi swasono,2011). Liberalisme yang sudah mulai ditentang dan tidak disenangi di masa itu memaksa para pemikir liberal mencari format dan istilah baru untuk tetap menancapkan pengaruhnya diseluruh dunia. Lalu muncullah istilah neoliberalisme. Neo diartikan dengan istilah “semi”. Dengan demikian neoliberalisme juga diartikan sebagai “semi liberal” atau tidak terlalu liberal atau dengan kata lain, liberalisme tidak radikal atau dengan kata lain leberalisme sosial. Dengan memainkan istilah seperti itu, para pemikir liberal itu berharap ide mereka didukung oleh masyarakat internasional yang diisi oleh beragam cara pandang. Mereka ingin membuat dunia ini memiliki satu pandangan, yaitu liberalisme, meski dengan istilah yang coba diperhalus menjadi neoliberalisme. Inilah salah satu strategi pemikiran barat untuk menjalankan misi “globalisasi” mereka.

Lalu apa itu globalisasi ?. H.Kissinger (1998) menyebut globalisasi adalah nama lain untuk dominasi Amerika. Ahli lain menyebutkan globalisasi dari segi cultural merupakan sebuah upaya perluasan pengaruh amerika atau “amerikanisasi” (Friedman, 2001). Kesimpulan dari dua ekonom itu menjelaskan betapa ide globalisasi sesungguhnya adalah ide penjajahan modern. Amerika yang mengusung ide itu menginginkan dunia ini memiliki ekonomi global tanpa pemerintahan global, memiliki ekonomi global tanpa masyarakat global (yang semuanya itu akan membuat dunia bergantung kepada Amerika). Pencetus ide The Class Of Civilization (Huntington, 1996) memberikan pandangan dalam keadaan dunia yang semakin terglobalisasi akan menyebabkan terjadinya perusakan serius terhadap kesadaran diri pada tingkat peradaban, kemasyarakatan, dan etnis. Apa yang dikatakan Huntington itu benar menurut saya. Karena itulah yang diinginkan Amerika. Membuat masyarakat internasional membuang kesadaran diri mereka pada tingkat peradaban, kemasyarakatan dan etnis agar peradaban itu selamanya hanya milik Amerika.

Neoliberalisme adalah salah satu turunan dari cara pandang globalisasi di bidang ekonomi. Pemikiran neoliberalisme berpandangan bahwa aktifitas ekonomi adalah aktifitas persaingan atau aktifitas kompetisi. Akibatnya, pandangan ini membuat para pelaku ekonomi memandang pelaku ekonomi lainnya sebagai kompetitor, sebagai pesaing bahkan sebagai musuh. Inilah alasan yang menjelaskan kenapa si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Sebab dengan logika kompetisi seperti ini si kaya tentu saja akan semakin baik kemampuan bersaingnya karena didukung oleh kekayaannya yang dengan itu akan membuatnya semakin kaya. Sebaliknya untuk si miskin, semakin kaya si kaya berarti semakin sedikit peluang si miskin untuk menguasai sumber ekonomi karena sudah dikuasai oleh si kaya tadi. Akibatnya kemiskinan terus dan akan terus terjadi selama si kaya tadi terus berusaha menjadi kaya. Inilah logika neoliberalisme yang secara sadar dipahami oleh para pemikirnya. Kompetisi yang akhirnya akan memenangkan segelintir orang dan mengalahkan sebagian besar masyarakat yang sebenarnya lebih berhak menguasai aset ekonomi yang dikuasai segelintir orang itu.

Indonesia sejak awal kemerdekaannya sesungguhnya sudah menolak sistem berfikir yang seperti ini. Sebab para pendiri bangsa ini paham bahwa pola pikir liberal hanya akan menyebabkan masyarakat Indonesia terpinggirkan. Undang-Undang agraria yang dibuat pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1870 membuat tanah-tanah Indonesia ketika itu dikuasai oleh asing dan memaksa rakyat pribumi menjadi kuli di negeri sendiri. Bahkan untuk kondisi saat itu, bukan sekedar menjadi kuli tapi menjadi budak untuk para tuan tanah. Budak karena mereka tidak pernah digaji. Kalaupun mereka mendapat upah, itu jauh dari layak untuk bisa membuat mereka hidup dengan layak. Sehingga agenda perjuangan kemerdekaan saat itu sebenarnya lebih kepada upaya demokratisasi ekonomi, menghilangkan pengaruh modal asing terhadap perekonomian Indonesia.

Setelah kemerdekaan itu kita dapatkan, pemerintah secara konkrit menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat. Tanah-tanah yang dikuasai asing itu diambil lagi oleh rakyat. Meski kita tau bahwa pengambilalihan tanah secara paksa oleh rakyat saat itu akhirnya berujung pada disintegrasi sosial karena konflik agraria. Tapi saya tidak sedang berbicara tentang sejarah perampokan tanah yang dilakukan PKI atas nama pemerintah saat itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa semangat awal berdirinya bangsa ini adalah untuk membebaskan Indonesia dari belenggu modal asing. Lalu ketika Indonesia dipimpin oleh diktator orde baru yang dikelilingi oleh aristokrat liberal hasil didikan Amerika, asset-aset Indonesia kembali banyak dikuasai asing. Itulah alasan kenapa Soeharto menandatangani perjanjian atau kontrak pertambangan selama 25 tahun dengan Newmont di NTB, atau dengan perusahaan-perusahaan lainnya di seluruh Indonesia. Tragisnya, setelah kejatuhan Soeharto karena sikap korup dan disokong para pemikir liberal itu, praktek neoliberalisme justeru semakin menjadi-jadi di negeri ini. Seolah ia adalah idiologi Negara.

Sebelum lebih jauh berbicara Indonesia yang dikuasai kaum neoliberal, ada baiknya kita memahami dulu kenapa globalisasi menjadi pilihan dan arah perjuangan barat, lalu kenapa Amerika yang menjadi aktor utama dalam penegakan globalisasi itu. Semangat globalisasi sesungguhnya juga dimiliki oleh Islam. Kita biasa menyebutnya dengan istilah Khilafah Islamiyah. Tapi ada terlalu banyak perbedaan yang mendasar antara kedua hal tersebut. Jika globalisasi menghendaki perekonomian global tanpa pemerintahan global, maka khilafah menghendaki perekonomian global dengan satu pemerintahan kolektif. Globalisasi bertujuan untuk menggiring asset-aset ekonomi berkumpul pada suatu pihak atau golongan tertentu dan menjadikan pihak lain sebagai “pensuplai” kebutuhan untuk golongan itu. Sementara khilafah menghendaki perekonomian global yang berdasarkan atas asas berkeadilan dan mensejahterakan. Globalisasi menggunakan paham ekonomi neoliberal dengan logika kompetisi untuk menjalankan aktifitas ekonomi, sementara khilafah menggunakan paham ekonomi syari’ah dengan semangat korporasi atau kerjasama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Globalisasi mengedapankan individualisme dan kebebasan tak terbatas untuk mendukung ide mereka, sementara khilafah mengedepankan ukhuwah dan kebebasan yang proporsional. Globalisasi menyatukan dunia dengan cara merekayasa perang mata uang global secara ekstrem (yang menekan Negara-negara berkembang) sedangkan khilafah menyatukan dunia dengan memenuhi kebutuhan real masyarakat untuk hidup sejahtera. Masih banyak lagi perbedaan yang lain secara fundamental antara keduanya. Yang paling menarik bagi saya adalah globalisasi dengan neoliberalismenya berupaya menghimpun aset ekonomi untuk kesejahteraan “golongan tertentu” sementara khilafah dengan ekonomi syari’ahnya menyebarkan aset ekonomi secara merata dan proporsional untuk kesejahteraan ummat manusia.

Lalu siapa “golongan tertentu” yang saya maksud diatas..?. tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah “komunitas yahudi internasional”. Dalam doktrin yahudi, ummat lain selain yahudi dianggap sebagai budak dan mereka adalah ummat terbaik yang diselamatkan. Mereka yakin, suatu saat Yehwah (atau entah apa istilahnya) akan turun ke bumi dan membunuh semua orang kecuali orang-orang yahudi. Nah, sebelum itu terjadi, mereka ingin agar dunia ini semuanya menjadi budak mereka. Tentu saja mereka tidak bisa melakukannya secara langsung, oleh karenanya dibutuhkan strategi jitu untuk mewujudkannya. Dengan paham neoliberalisme, mereka memaksa semua orang untuk berkompetisi memperebutkan aset-aset ekonomi. Seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya, kompetisi itu kemudian semakin memperkaya orang kaya dan mempermiskin orang miskin. Akibatnya adalah semakin banyak orang yang miskin dan semakin sedikit orang yang kaya. Nah, orang kaya yang sedikit ini kemudian dibuat bergantung pada yahudi dengan memberikan jaminan keamanan kekayaan mereka. Teknisnya adalah kekayaan itu mereka simpan di suatu bank yang bank itu kemudian menjaminkan uang tersebut kepada bank sentral dalam bentuk Giro Wajib Minimum (GWM). Bank sentral itu lalu bergantung juga pada dana moneter internasional seperti IMF, WTO, dll.

Dalam bentuk lain, uang milik orang kaya itu juga diperjual belikan melalui “jual beli valuta asing” di pasar uang. Termasuk juga jual beli saham di pasar saham. Jadi, semua itu pada akhirnya bermuara pada “segelintir orang komunitas yahudi” itu. Dengan kata lain, sesungguhnya kekayaan yang tersimpan milik orang-orang kaya itu sebenarnya dikuasai oleh komunitas yahudi itu. Sementara, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka seperti makan, pakaian, rumah dan sebagainya, mereka mengeksploitasi tenaga orang miskin untuk mendapatkan bahan bakunya. Para petani mensuplai kebutuhan makanan, para pekebun mensuplai kebutuhan bahan baku pakaian dan perumahan. Untuk memiliki hasil jerih payah petani itu, mereka hanya mengeluarkan sebagian kecil dari harta mereka.

Lalu kenapa Amerika..?. ada beberapa sebab menurut saya. Pertama yahudi yang memiliki Negara berdaulat yaitu Israel tidak bisa diterima di semua negara. Ada banyak negara yang tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel karena sentimen tertentu, baik sentimen keagamaan, sentimen teritorial maupun sentimen-sentimen lainnya. Sementara itu, Amerika adalah negara yang relatif bisa diterima oleh semua kalangan serta memiliki jaringan internasional yang baik. Kedua, Amerika merupakan negara yang punya pengaruh cukup kuat di dunia internasional, baik di PBB, maupun di negara-negara lain. Ketiga, Amerika adalah negara yang paling banyak menerima manfaat dari korporasi yahudi. Dengan demikian, kaum yahudi bisa memanfaatkan rasa berhutang budi Amerika kepada yahudi untuk menjalankan misi internasional mereka, menjadikan ummat lain sebagai budak.

Tapi kenapa dunia begitu mudah menerima ide itu..?. Apakah masyarakat dunia tidak mengetahui misi terselubung yahudi itu..?. Kenapa pula banyak kaum muslimin di Indonesia yang mendukung ide itu?. Kenapa pula idiologi itu begitu subur di Indonesia yang bahkan pemerintahnya sendiri adalah penganut cara berpikir itu. Disinilah kelihaian yahudi yang bekerja berdasarkan skala prioritas. Mereka tahu persis bahwa peradaban dunia itu tidak dimulai dari penguasa. Sebab penguasa cenderung mengikuti arahan akademisi (ilmuwan). Tidak pula dari pengusaha, sebab pengusaha juga banyak bertindak berdasarkan hasil studi para ilmuwan. Nah, disinilah para yahudi itu bermain, mereka melakukan rekayasa pemikiran terhadap para ilmuwan. Jadi, disadari atau tidak, kebanyakan ilmuwan dunia, terutama para ekonom adalah objek rekayasa pemikiran oleh yahudi.

Kita tahu bahwa kaum intelektual atau ilmuwan adalah orang yang sangat di hormati dan berpengaruh besar dalam peradaban ummat manusia. Sejarah peradaban ummat manusia selalu dimulai dari gerakan pemikiran yang dicetuskan para ilmuwan. Itulah yang menyebabkan nama Plato, Aristoteles, Newton, Charles Darwin dan ilmuwan-ilmuwan lain tetap abadi sepanjang masa. Tapi kenapa para ilmuwan (terutama ekonom) sekarang yang notabene adalah kaum intelektual yang seharusnya bisa berpikir rasional bisa terjebak dalam misi yahudi ?. disinilah sekali lagi yahudi itu menggunakan skala prioritas dalam bekerja. Mereka memulai persemaian pemikiran itu melalui kurikulum.

Kalau anda pernah belajar ekonomi, anda tentu ingat apa yang diajarkan kepada anda..? (ini terjadi juga kepada saya). Hal dasar yang diajarkan adalah bagaimana pasar menemukan bentuknya sendiri melalui mekanisme pasar. Disana demand atau permintaan dan supply atau penawaran bertemu untuk membentuk suatu keseimbangan harga. Tidak ada yang salah dengan logika ekonomi itu. Tapi yang tidak bisa saya terima adalah mekanisme itu tidak adil dalam menetapkan harga, sebab ia tidak memperhatikan kemampuan ekonomi (ketersediaan uang) konsumen untuk membayar harga tersebut. Mekanisme pasar seperti itu tidak lain merupakan hukum rimba dimana yang kuat akan menang dan yang lemah akan kalah. Artinya, bagi mereka yang tidak mampu membayar harga yang tercapai pada tingkat “keseimbangan harga” itu idak dapat memiliki barang tersebut, padahal barang tersebut sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya, disiniah tidak adilnya asumsi ekonomi Adam Smith itu. Pasar adalah instrument yang tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan untuk masyarakat yang telah makmur sekalipun, pasar merupakan pelayan yang rajin untuk orang kaya, tetapi tidak memihak kepada yang miskin (Edi Swasono, 2011). Artinya harga yang dibentuk oleh pasar adalah sekadar “keseimbangan pasar” tetapi bukan “keseimbangan masyarakat” untuk menjamin tercapainya “keadila sosial bagi seluruh masyarakat”. Itulah sebabnya, seorang ekonom terkemuka, Lester Thurow (1983) menyebut mekanisme pasar semacam ini sebagai “the dangerous current” atau “arus berbahaya” bagi kesejahteraan masyarakat.
Untuk terus menanamkan pemikiran ekonomi itu, para donatur internasional yang tidak lain adalah pemangku kepentingan (yahudi) mensuplai kebutuhan buku ajar ekonomi ke seluruh dunia melalui lembaga-lembaga internasional yang bisa diterima masyarakat internasional. Nah, sekarang kita bisa simpulkan kalau ternyata selama ini, ilmu ekonomi yang diajarkan kepada kita adalah suatu upaya penjerumusan pola pikir kaum intelektual untuk menunjang kesejahteraan hidup segelintir orang. Disamping itu, pemberian beasiswa untuk belajar ekonomi di Amerika, Kanada dan lain sebagainya adalah program lain untuk memupuk pemikiran liberal itu. Sekarang, hasil didikan ekonomi liberal inilah yang mengisi pos-pos penting di pemerintahan. Dalam sebuah diskusi nasional, Prof. Sri Edi Swasono (Guru Besar FEUI, inspirasi saya menulis tulisan ini) menyebut mereka sebagai “preman berdasi” yang memimpin bangsa. Oleh karenanya kita tidak heran kalau Marie Elka Pangestu beberapa waktu lalu mengimpor kentang meskipun produksi dalam negeri masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kentang nasional. Itu pula sebabnya kenapa pemerintah rela memberikan uang rakyat 6,7 Triliun rupiah untuk menyelamatkan Bank Century. Itu pula yang menyebabkan bermunculannya ide “membuka hubungan diplomatik dengan Israel” untuk menjamin perekonomian nasional.
Selain di pemerintahan, hasil didikan Amerika ini juga pulang ke Indonesia dengan berkiprah sebagai akademisi tulen. Mereka lalu menulis buku-buku ekonomi yang tidak lain adalah mengulang atau bahkan mengutip ekonom tempat mereka belajar dengan sedikit penyesuaian dengan kondisi lokal Indonesia. Sebut saja Sadono Soekirno, Herman Rusyidi, Prathama Rahardja, Mandala Manurung, dll. Mereka semua menulis buku ajar ekonomi yang masih bertitik tolak pada paham neoklasikal yang mengajukan competitive economic (ekonomi kompetisi) dan fundamentalisme pasar, meskipun sedikit menyinggung tentang sistem ekonomi Indonesia dan menyebut perkataan “koperasi” didalamnya.

Neoliberalisme tidak akan pernah melahirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebaliknya neoliberalisme akan terus menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan. Kalau penyelenggara Negara ini tidak segera beralih haluan dengan meninggalkan neoliberalisme, maka akan terjadi kesenjangan sosial ekonomi yang semakin parah. Akibatnya Indonesia akan sangat mudah terjangkit “disintegrasi sosial”. Untuk apa punya pemerintah kalau tidak bisa mensejahterakan rakyatnya..?. Saat ini, sedang terjadi demonstrasi anti wallstreet di Amerika dan eropa oleh kaum-kaum yang termarginalkan disana. Cepat atau lambat, hal serupa atau mungkin lebih parah juga akan terjadi di Indonesia.

Ekonomi syari’ah yang akhir-akhir ini berkembang semakin pesat diyakini akan mampu membawa perbaikan kesejahteraan. Tapi sejauh ini penerapan ekonomi syari’ah itu hanya sebatas pada bank, belum pada aktifitas ekonomi lainnya. Sudah banyak kampus di Indonesia yang menjadikan ekonomi Islam sebagai bidang studi khusus. Tapi sejujurnya, masih ada kekhawatiran dalam diri saya bahwa kurikulum ekonomi Islam itu akan dimasuki juga oleh korporasi yahudi. Semoga kekhawatiran saya ini tidak terjadi. Saya juga berharap ada upaya mencerdaskan dari orang yang paham agar tidak banyak orang yang menjadi korban rekayasa pemikiran yahudi.

Penulis
Muhammad Nurjihadi (pemerhati ekonomi,
mahasiswa PS Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan, IPB).

Tulisan ini merupakan hasil perenungan, kegundahan hati dan pikiran serta hasil diskusi dibidang ekonomi. Kedepan saya akan berusaha menulis masalah-masalah ekonomi secara konsisten dengan tema yang berbeda atau mirip.

Sunday, 9 October 2011

MELEJITKAN POTENSI DESA UNTUK INDONESIA MAJU DAN SEJAHTERA

(disampaikan sebagai pidato politik dalam temu pelajar-mahasiswa NTB 2010 di Mataram)
Oleh : Muhammad Nurjihadi
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa dengan jumlah penduduk terbesar di Dunia. Sensus penduduk terakhir mencatat jumlah penduduk Indonesia melampaui angka 200 juta orang. Sungguh, populasi yang besar ini merupakan potensi yang luar biasa untuk melakukan aktifitas pembangunan. Meski demikian, bangsa kita seolah – olah memandang bahwa jumlah penduduk yang begitu besar itu adalah sebuah ancaman. Kekhawatiran ini menjadi dasar pemerintah untuk membatasi jumlah kelahiran anak dalam rumat tangga. Sejak zaman orde baru, pemerintah mencanangkan program KB untuk mendukung upaya itu. Pemerintah berdalih bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan, pendidikan, dan penghidupan yang layak tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang begitu besar.

Tuhan telah menitipikan bangsa ini kepada kita beserta seluruh kekayaan yang ada didalamnya, baik yang terwujud secara fisik (material) maupun yang tidak terwujud (immatirial). Gunung – gunung vulkanis menjulang tinggi, menebar kesuburan yang tiada terkira bagi tanah – tanah disekitarnya. Lautan dan samudra terbentang luas, dihuni oleh ikan dan binatang laut lainnya yang tak kunjung habis dimakan sampai tujuh turunan sekalipun. Hutan hujan tropis tersebar luas disetiap pelosok negeri, memberikan keteduhan, menyediakan ruang hidup yang baik bagi berjuta – juta spesies mahluk ciptaan Tuhan. Bukit – bukit hijau menjulang dimana – mana, menyimpan kemegahan emas, perak, tembaga, dan barang – barang mewah lainnya. Ditanah ini, setiap batang yang anda lempar atau tancapkan, akan tumbuh subur tanpa harus repot memeliharanya. Hanya ada disini saudara, di INDONESIA.
Lalu, mengapa kita harus menjadi bangsa yang paranoid, bangsa yang mengecilkan kebesarannya, dan bangsa yang merapuhkan kekuatannya dengan membiarkan sikap psimistis yang mematikan menguasai jiwa – jiwa kita, jiwa para penguasa dan jiwa rakyatnya. Seharusnya kita tidak perlu mengkhawatirkan jumlah masyarakat kita yang besar, karena Tuhan telah menjaminkan kehidupannya dengan memberikan kita kekayaan alam yang melimpah ruah. Tidak sebandingnya jumlah penduduk dengan ketersediaan pekerjaan, pendidikan, dan akses ekonomi sebagaimana yang dikhawatirkan pemerintah bukan karena negeri ini miskin, tapi lebih karena kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang menggunakan srategi pembangunan yang keliru.
Pada masa orde lama, pemerintah hampir tidak sempat memikirkan kemakmuran rakyatnya dengan melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena elit – elit politik saat itu sibuk mencari jati diri bangsa, terjebak dalam krisis idiologi yang tak berkesudahan serta konflik idiologis yang mengerikan. Era selanjutnya yang dikenal dengan orde baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto berhasil menstabilkan politik nasional dan berfokus pada pembangunan nasional. Harus diakui bahwa upaya ini sedikit tidak mampu memajukan harkat dan martabat bangsa Indonesia dari segi ekonomi, meskipun pada akhirnya kita tahu bahwa rezim ini menjual negara dan rakyatnya untuk keperluan itu. Rezim orde baru menggunakan pendekatan top-down dalam proses pembangunannya, sehingga memungkinkan rakyat yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan lebih sejahtera daripada rakyat yang ada dipelosok – pelosok desa, terutama di kawasan Indonesia Timur. Kebijakan pembangunan digodok dan dibentuk di Jakarta untuk membangun daerah – daerah di Papua, Maluku, NTT, NTB yang notabene memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kebutuhan yang berbeda.


Runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 merupakan antiklimaks dari kekecewaan rakyat terhadap pendekatan pembangunan yang keliru itu. Pembangunan model itu telah menyeret Indonesia pada hutang luar negeri yang nilainya jauh melebihi nilai APBN yang ada saat itu, sementara hasilnya nihil. Masyarakat yang ada di desa – desa tetap miskin, bahkan negara secara nasional akhirnya mengalami krisis ekonomi terparah sepanjang sejarah sebagai akibat dari kesalahan strategi pembangunan nasional.
Sekarang, di era reformasi ini bangsa kita memilih haluan lain, menggunakan metode lain dengan pendekatan teoritis sebagai strategi pembangunan nasional. Strategi top-down peninggalan orde baru ditinggalkan dan berbalik arah dengan menggunakan pendekatan Buttom-up. Rencana pembangunan disusun di desa – desa melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musyrenbangdes), lalu kemudian di generalisasikan ke bentuk yang lebih umum menurut skala prioritas pada Musyrenbangcam untuk kemudian diusulkan pada MusyrenbangKab sebagai acuan dalam Musyrenbangprov dan kemudian digodok dan diputuskan secara nasional pada Musyrenbangnas atau national summit. Secara kasat mata, metode ini seolah – olah memberikan demokratisasi kepada rakyat yang ada di desa – desa untuk merencanakan pembangunannya sendiri. Namun, metode ini tidak lain dan tidak bukan hanya merupakan strategi pemerintah untuk menutup – nutupi kepentingannya dalam proses pembangunan nasional. Sebab kebijakan pembangunan nasional yang diambil pada saat national summit tetap menyamaratakan seluruh daerah dalam tataran aplikasi. Padahal, saya ingin mempertegas sekali lagi bahwa potensi setiap daerah bahkan setiap desa dalam suatu daerah BERBEDA – BEDA. Selain itu, untuk sampai pada national summit, rencana pembangunan yang disusun di desa umumnya telah lenyap karena telah melewati banyak rangkaian, mulai dari kecamatan, kabupaten, dan provinsi yang juga syrat akan kepentingan sekelompok orang. Itulah sebabnya, sepuluh tahun setelah reformasi bergulir, bangsa ini belum keluar dari belenggu kemiskinan yang menyesakkan.

Kini saatnya kita mengembangkan strategi baru dalam pembangunan nasional kita. Wilayah Indonesia yang sebagian besar adalah desa, juga 60% dari lebih dari 200 juta masyarakatnya tinggal di desa harus diberikan hak penuh secara merdeka untuk merencanakan pembangunan desanya serta bertanggungjawab secara penuh atas aplikasinya. Hanya dengan membangun partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan, kita dapat menikmati hasil pembangunan yang mensejahterakan. Partisipasi ini harus dikembangkan dan didorong oleh pemerintah dengan memberikan sejumlah anggaran yang jelas kepada setiap desa sebagai jaminan bahwa rencana yang disusun dapat langsung diimplementasikan oleh rakyat yang merencanakannya itu.
Pendekatan ini saya usulkan, karena selama ini partisipasi masyarakat hanya dilibatkan pada proses perencanaan, tapi sering dilupakan ketika proses pelaksanaan program pembangunan. Ke depan, pemerintah harus berani merealisasikan anggaran “1 desa Rp 1 milyar” dengan dikelola oleh badan khusus (misal: Bappeda atau badan lainnya). Ketika anggaran itu diminta oleh masyarakat desa untuk melaksanakan aktifitas pembangunan sebagaimana yang mereka rencanakan, maka badan yang bertanggungjawab itu harus merealisasikannya dan mengawasi penggunaannya. Dengan begitu, pembangunan yang dilakukan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. Jika semua desa sudah berhasil melakukan pembangunan dengan model ini, maka akan tercipta kemandirian masyarakat dan menguatkan ekonomi nasional serta tentu saja mengangkat harkat dan martabat bangsa dan yang paling penting, kita menghapus kemiskinan dari bumi Indonesia.

Hanya ini yang dapat saya sampaikan, saya berharap gagasan ini mendapat dukungan dari banyak pihak, terutama pemerintah. Karena saya masih dalam keyakinan yang kuat bahwa model ini akan mampu membawa Indonesia keluar dari keterpurukan yang seolah tak berujung ini.
Mari kita bangkit dari keterpurukan, kita bunuh sikap paranoid, psimis, dan tidak percaya diri. Karena kita terlahir tidak untuk misikin, tidak untuk menderita, tapi untuk sejahtera.
Merdeka…..!!
Terimakasih dan wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatu

Wednesday, 5 October 2011

Part 3. Sepeda Jengki Merah, Ungkapan Cinta Tanpa Romantisme

Baru kemarin sore aku dijemput dari tempat tinggal ibuku di Mataram. Iya, seminggu sebelumnya ibu datang menjemputku untuk tinggal bersamanya seminggu saja. Karena bapak hanya memberikan izin satu minggu untuk ada disana, maka kemarin aku dijemput bapak untuk pulang lagi ke desa. Waktu itu usiaku sudah lima tahun jalan.

Pagi itu, saat aku baru bangun dari tidurku, seperti biasa aku duduk ditangga rumahku untuk menyaksikan lalu lalang aktifitas warga kampungku. Hari ini serasa istimewa bagiku. Saat aku sibuk menyaksikan lalu lalang aktifitas warga desaku, Oji datang menghampiriku bersama Auzin. Mereka berdua adalah misanku. Oji yang begitu dimanja ibunya, dan Auzin yang rumahnya dilempar oleh adiknya sendiri, Rido ketika dia tidak diberikan uang belanja cukup oleh ibunya.

“ayo kita pergi sekolah had…!” ajak mereka. Tentu saja aku kaget. Rasanya aku masih terlalu kecil untuk memulai sekolah sekarang.

“tapi saya kan masih kecil..” jawabku.

“ayo dah, ayo…!!” Oji memaksa

“iya jihad, tidak apa-apa, tuh… kamu udah besar sekarang, udah saatnya kamu sekolah” bapak datang menghampiriku, berkata dengan lembut sambil memegang kepalaku.

Aku sangat senang. Sekolah adalah hal yang paling aku inginkan saat itu. Sebab dengan sekolah, bisa membuat aku terhindar dari ibu tiriku setiap pagi.

“iya,,,iya,,, aku mau” jawabku girang.

“kalau gitu, kamu mandi dulu” kata bapakku. Akupun bergegas ke kamar mandi, bapak memandikanku pagi ini. Setelah itu, aku menggunakan pakaian terbaik yang kumiliki saat itu. Aku, Oji, dan Auzin berangkat bersama untuk pergi mendaftar sekolah. Oji dan Auzin dua tahun lebih tua dariku.

Di desa kami ada banyak pilihan sekolah dasar. Lokasinya juga tidak jauh dari tempat tinggal kami. Setidaknya, ada 5 sekolah dasar yang dapat kupilih menjadi sekolahku saat itu. Tapi yang terbaik menurut warga desa kami dari semua sekolah dasar itu adalah Madrasah Ibtida’iyah Nahdlatul Wathan (MI NW Kabar). Yah,, di desa kami, loyalitas terhadap organisasi keislaman Nahdlatul Wathan memang sangat tinggi. Jika di sekolah lain kami tidak perlu membayar apapun untuk sekolah karena telah di biayai negara, di MI ini kami harus membayar SPP tiap bulannya.tapi backround NWnya membuat sekolah ini lebih diminati dan lebih bergengsi. Bahkan saking banyaknya peminatnya, ia terkadang menolak calon siswa saat itu. Calon siswa yang tertolak itulah yang kemudian menjadi siswa di sekolah lain yang ada di desa kami. Bapak memilihkanku sekolah terbaik itu untuk menempuh pendidikan dasarku.

Begitu sampai di sekolah baruku, betapa kagetnya aku, ternyata di sekolah bergengsi ini hanya menyaratkan satu hal untuk bisa diterima menjadi siswa. Mungkin ada syarat lain, tapi hanya satu syarat ini yang aku ingat, selebihnya tidak aku pahami saat itu. Ya satu-satunya syarat itu adalah aku harus bisa memegang telinga kiriku dengan tangan kanan lewat atas kepala. Jika aku mampu menggapainya, maka itu berarti aku sudah boleh masuk sekolah itu. Aku bersusah payah untuk memegang telinga kiriku dengan tangan kananku. Oji dan Auzin melakukannya dengan mudah. Mereka emang sudah cukup besar, tujuh tahun. Sementara itu, aku berusaha keras untuk bisa memegangnya, Alhamdulillah, setelah berusaha keras, akhirnya tangan kananku mampu juga menggapai telinga kiriku dari atas kepala. Aku lulus ujian masuk sekolah ini.

Satu lagi hal lucu. Petugas penerima siswa baru itu bertanya kepadaku yang didampingi kak Heri saat itu.

“siapa namamu, nak..??” tanyanya lembut

Aku menjawab dengan sigap, “aku punya dua nama pak, satu Muhammad Syahrul Jihadi, satu lagi Muhammad Nurjihadi”.

Saat itu aku memang bingung, karena dua nama itulah yang dikatakan bapak sebagai nama lengkapku. Ibu selalu memanggilku dengan syahrul di usia kecilku, karena memang sebelum kedua orangtuaku bercerai, keluarga telah bulat memberiku nama Muhammad Syahrul Jihadi. Tapi belakangan, atas saran dari Tuan Guru Maulana Syeh Zainudin Abdul Madjid Pancor yang sangat dihormati itu, namaku akhirnya dirubah menjadi Muhammad Nurjihadi. Bapak sebenarnya lebih senang dengan nama yang pertama, Muhammad Syahrul Jihadi.

“tidak bisa begitu nak, namanya harus satu” jawab petugas itu sembari senyum.
Aku bingung, aku menatap wajah kak Heri yang mengantarku waktu itu.

“namanya Muhammad Nurjihadi pak” sahut Kak Heri kemudian.

Jadilah sejak saat itu, namaku tak pernah lagi dirubah hingga kini. Di semua ijazah dan keterangan identitas lainnya, namaku tetap Muhammad Nurjihadi. Sejak saat itu pula aku mulai melupakan nama pertamaku. Tapi tidak dengan ibu, beliau tinggal terlalu jauh dari tempat kami. Beliau hanya tau nama yang beliau sepakati dulu bersama bapak, sehingga selama beberapa tahun beliau tetap memanggilku syahrul, sampai akhirnya beliau mendapat penjelasan dan beralih memanggilku Jihadi.
*****

Tanpa terasa satu tahun sudah aku menjalani hari-hari sebagai seorang siswa di MI NW Kabar. Aku blajar membaca, menulis, menggambar, dan tentu saja bernyanyi. Kini di ujung tahun ajaran, sekolah harus melakukan evaluasi hasil belajar untuk menentukan kenaikan kelas siswanya. Ada 34 orang yang terdaftar sebagai siswa kelas satu saat itu. Kami pun diuji dengan ujian yang layak.

Saat yang dinanti pun akhirnya tiba. Saat itu adalah saat pembagian “rapot” kami menyebutnya. Entah dari mana kata itu datang. Sejauh yang aku tau, itu adalah bahasa inggris “Raport” yang berarti laporan yang kemudian disebut dengan lidah melayu, jadilah ia disebut “rapot”. Melalui rapot ini, perkembangan belajar kami selama setahun dilaporkan ke orangtua, termasuk keputusan naik atau tidaknya kita ke kelas atau jenjang berikutnya. Melalui rapot ini pula, akan disampaikan kita ada di peringkat ke berapa dalam prestasi akademik di kelas.

Satu persatu temanku dipanggil urut berdasarkan urutan absen. Oji dan Auzin dipanggil lebih dulu. Yah, nama mereka emang berawalan huruf yang posisinya lebih dulu dari namaku. Oji bernama asli Fauzi Ahmad Affandi, inisial namanya adalah “F”, dan Auzin bernama asli Ahmad Auzin Afifi, inisial namanya berhuruf “A”. sedangkan aku, inisial namaku adalah huruf “M”. jadi merka punya nomor absen lebih rendah di kelas kami. Auzin yang pertama mengambil rapot membuka rapotnya dan ternyata ia mendapat juara satu (1) alias menjadi yang terbaik di kelas. Ia tersenyum dengan hasilnya. Ia pun mendapat hadiah atas rangking itu. Fauzi pun membuka rapotnya. Dia mendapat rangking tiga (3). Dia juga mendapat penghargaan berupa buku dari prestasi itu. Maka tibalah giliranku dipanggil. Saat rapot itu diserahkan, bu’ guru yang memberi rapot tidak memberikanku hadiah seperti yang diberikan kepada Auzin dan Oji. Aku hanya mendapatkan rapot itu. Aku buka rapot itu yang ternyata disana tertulis dengan sangat jelas bahwa aku berada pada peringkat 34 dari 34 siswa.

Aku berteriak sekeras yang aku bisa. Bukan menangis, tapi tertawa bangga. Aku sangat senang. Aku mengejek Auzin dan Oji yang rangkingnya rendah.

“saya yang paling besar rangkingnya disini, saya paling pintar” teriak saya.

Ibu guru yang melihat dan mendengar omongan saya itu hanya tersenyum, tak berkata apapun, tapi senyumnya begitu lebar, seolah mengiyakan perkataanku. Jadilah aku anak paling senang saat itu. Auzin dan Oji berhasil aku buat gelisah dan merasa sedih karena ulahku. Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, aku berteriak kegirangan. Menyapa setiap orang yang kutemui dengan kesenangan luar biasa. Aku meloncat-loncat kegirangan dengan mengangkat rapotku. Memamerkan kepada setiap orang yang ku temui. Aku sangat senang.

Begitu jelas tergambar dalam benakku hingga kini, betapa saat itu aku sangat senang karena ketidak tahuanku. Aku tidak tahu jika bukan angka yang banyak yang bagus jika berbicara tentang rangking. Rangking 34 dari 34 siswa berarti saya adalah yang terbodoh dikelas, tapi paling bahagia di hari itu. Merasa menjadi yang terbaik di hari itu. Semua duka karena konflik keluarga saya lupakan sejenak. Dalam benak saya, bapak pasti akan senang dengan hasil ini. Aku tidak sabar ingin segera sampai rumah dan memperlihatkan hasil ini kepada bapak, juga kakak-kakakku.

“assalamualaikum…” aku mengucap salam dengan suara kencang nan lantang penuh kebanggaan.

“waalaikumsalam, nah… mana rapotnya,,,??” jawab bapak

“ini pak, rangkingku paling besar di kelas pak, aku dapat rangking 34, Auzin sama Oji sedikit rangkingnya, Auzin Cuma rangking 1, dan Oji Cuma rangking 3” jawabku lugu..

Bapak, kakak-kakakku dan semua yang ada disana saat itu menertawakanku.. mereka tertawa terlalu keras, terbahak-bahak, dan tak tertahankan. Bahkan tawa mereka serasa masih kudengar jelas saat tulisan ini aku buat, 15 tahun sejak kejadian itu. Dugaanku ternyata benar, mereka akan senang dengan hasil ini. Buktinya mereka tertawa dengan kencangnya setelah melihat rapot dan mendengar penjelasan lugu dariku. Tapi aku tau, ada yang salah dengan tawa itu. Bukan begitu tawa orang yang senang. Itu adalah tawa ejekan.

Tak lama berselang, bapaknya Oji dan kakaknya Auzin datang ke rumah, bermaksud menanyakan berapa rangkingku sekaligus untuk bercerita bahwa Auzin dan Oji dapat rangking yang bagus. Mendengar penjelasan dari bapak dan kakak-kakakku, mereka juga akhirnya menertawakanku. Akhirnya aku sadar, bahwa aku salah. Rangking yang baik dan membanggakan itu bukanlah rangking yang besar, tapi rangking yang kecil. Aku jadi minder dibuatnya setelah itu. Hari itu sekaligus aku memahami bahwa ternyata aku adalah orang terbodoh di kelasku. Sungguh, anak usia eam tahun itu jadi begitu malu dibuatnya.

Keesokan harinya, giliran teman-teman kelas yang mengejekku. Oji dan Auzin mengejekku terus-terusan. Ejekan itu membuatku menjauh dari mereka dan mengasingkan diri dari pergaulan dari komunitas kecilku. Kami memang sedang libur, tapi apa lah artinya libur di sekolah kami. Bukankah semua siswanya dari desa itu juga..??. jadi setiap hari kami tetap bertemu, tapi bukan di kelas melainkan di area bermain. Tetap saja, aku tetap diolok tentang kejadian itu, meski saat bermain.

Seperti biasa, hari ini aku mendatangi rumah Auzin untuk bermain. Tapi Auzin sedang tidak dirumah, dia juga sedang pergi bermain kata ibunya. Akupun lalu ke rumah Oji, tapi dia ternyata satu rombongan dengan Auzin. Yah, akhirnya aku harus bermain sendiri hari itu. Saat panas mulai terik dan memaksa tubuh mengeluarkan cairan asin, Auzin dan Oji akhirnya pulang. Ternyata mereka baru saja pulang bermain sepeda. Masing-masing mereka menunggang sepeda baru yang dibelikan orangtua mereka sebagai hadiah prestasi kelas mereka. Ya, saat itu sepeda sedang menjadi tren bermain anak seusiaku.

Esok harinya aku juga harus merelakan diri untuk bermain sendiri, sebab Auzin dan Oji sudah punya teman bermain baru, sepeda mereka. Aku sangat ingin memiliki sepeda, tapi apa daya, tidak ada alasan bagiku untuk memiliki sepeda. Meski bapak mungkin mampu membelikannya untukku, tentu saja ibu tiriku tidak mudah untuk mengizinkan, apa lagi dengan menyandang predikat sebagai siswa terbodoh di kelasku. Hari-hari yang kulalui terasa sepi, aku hanya berkawan sepi dan mimpi untuk menunggangi sepeda.

Masa libur sekolah masih panjang, jadi aku harus menghabiskan waktu pagiku setiap harinya untuk memimpikan sepeda. Hari itu aku tidak lagi kuat untuk berkawan sepi dan mimpi di pagi hariku. Lebih-lebih bersama ibu tiriku. Jadi hari itu aku mengikuti Auzin dan Oji untuk pergi bermain sepeda. Mereka menunggangi sepeda mereka, sementara aku hanya berlari mengejar mereka yang melaju kencang dengan sepedanya. Sesekali, salah seorang diantara mereka memboncengku. Bukan hanya Auzin dan Oji, tapi juga teman-teman yang lain. Jika sudah lelah, aku turun lagi dan berlari lagi mengikuti ayunan sepeda mereka. Itulah hari-hari liburku selanjutnya, berlari mengejar sepeda.

Libur sekolah akhirnya habis, kami harus mulai masuk ke sekolah untuk kembali menuntut ilmu. Aku senang karena itu berarti aku punya aktifitas lain selain pergi berlari bersama orang yang mengayuh sepeda. Meski saat pulang sekolah, rutinitas itu aku lakukan lagi. Tapi hari ini aku serasa terasingkan di sekolah. Dihari pertama masuk sekolah, teman-teman mengucilkanku dan menghardikku. Mereka mengatakan aku tidak naik kelas, jadi tidak boleh duduk bersama mereka dibangku kelas dua. Aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Dalam raport secara jelas disebutkan bahwa aku “naik ke kelas dua”. Tapi teman-teman tidak percaya. Menjadi pemegang rangkin terakhir di kelas membuat mereka menganggap bahwa aku tidak naik kelas. Sebab ada satu orang teman lain yang rangkingnya lebih baik dari rangkingku justeru tidak naik kelas. Aku tidak mengerti kenapa, yang pasti di rapotku tertulis jelas bahwa aku naik ke kelas dua, sementara teman yang kumaksud tidak naik kelas itu memang dinyatakan tidak naik kelas di kelas kami saat itu.

Aku tertolak dikelas dua. Tidak ada satupun teman yang menerima aku ada dikelas itu, termasuk Auzin dan Oji yang tidak hanya sekedar sahabatku, tapi juga saudaraku. Akhirnya aku terpaksa duduk kembali di kelas satu. Tapi ketika aku belajar dikelas satu, bapak/ibu guru yang melihatku pasti akan menegurku dan memintaku untuk duduk di kelas dua karena mereka menganggap aku kelas dua. Kejadian ini berlangsung selama hampir dua bulan. Jika aku pulang lebih pagi, maka itu berarti hari itu aku duduk di kelas satu. Tapi jika pada hari itu aku pulang lebih telat atau agak siang, maka itu berarti hari itu aku duduk di kelas dua. Setiap hari aku menggilirkan kelasku. Hari ini kelas satu, maka besok aku kelas dua. Begitu seterusnya sampai kurang lebih dua bulan.

Suatu hari, aku pulang pagi yang berarti bahwa hari itu aku duduk di kelas satu. Bapak ada dirumah saat itu.

“loh, kok kamu pagi sekali pulang sekolah nak..??” Tanya bapak

“saya hari ini kelas satu pak…” jawabku santai

Bapak emang sering menanyakan hal yang sama kepadaku. Pada akhirnya beliau menjadi paham bahwa jika aku pulang agak siang itu berarti aku kelas dua, dan demikian pula sebaliknya.

“tu ada hadiah untuk kamu…” kata bapak sambil menunjuk ke arah sepeda yang diparkir dipinggir pintu lengkap dengan bungkus dan segelnya.

“ini punya saya pak..??” aku bertanya balik

“ya iya lah, kalo disitu tempatnya, kamu sudah yang punya” jawab bapak degan gaya hasnya.

“horeeeeeee…” aku berteriak kegirangan.

Ternyata bapak begitu perhatian kepadaku. Aku tidak pernah meminta untuk dibelikan sepeda, karena tentu saja aku tau diri bahwa bapak tidak mungkin membelikannya untukku. Tapi iya adalah bapakku, tentu saja beliau memiliki kepekaan terhadap kondisi anaknya. Mungkin juga karena beliau malu melihat anaknya setiap hari berlari mengejar temannya yang mengayuh sepeda. Betapa senangnya aku. Meski mendapat penolakan dari isterinya, ibu tiriku, bapak tetap membelikan sepeda untukku. Aku menjadi semakin sadar, bahwa bapak selama ini mencintaiku, meski beliau tidak pernah kudengar mengatakan “aku menyayangimu, nak…”.

Sepeda itu tidak biasa. Ya, sepeda jengki berwarna merah. Sepeda jenis itu tidak ada di desaku saat itu. Biasanya hanya orang kota yang menggunakan sepeda melankolis itu. Aku mengetahuinya karena aku sering melihat orang menggunakan sepeda seperti itu saat aku ada di kota, di rumah ibu. Bapak memang sosok yang luar biasa. Beliau tidak pernah ingin diremehkan dan melihat anaknya diremehkan. Beliau memberikan untukku sesuatu yang saat itu mungkin tidak terpikirkan oleh orangtua teman-temanku yang lain. Seolah berhutang, bapak hari ini membayar lunas hutangnya kepadaku. Ya, beliau berhutang karena selama ini membiarkan anaknya berlari dan terus berlari mengejar temannya yang bersepeda. Aku adalah penunggang sepeda jengki pertama di desaku. Dan setelah itu, ada banyak orang yang mengikuti tren sepedaku. Bapak menjadikanku trendsetter saat itu. Sepeda jengki merah itu adalah ungkapan cinta tanpa romantisme. Pemberian itu lebih dari sekedar kata-kata gombal yang dianggap romantis oleh orang. Oohh,,, terimakasih bapak.

Suatu ketika, saat aku duduk dibangku kelas satu, kepala sekolah kami masuk kelas untuk mengajar kami, mengganti guru kelas kami yang kebetulan hari itu tidak masuk sekolah karena sakit. Kepala sekolah yang kami kenal sangat galak sekaligus berwibawa. Jadi apapun yang dikatakannya pasti kami dengar. Saat beliau sedang asyik mengajarkan kami, beliau melihat ke arahku. Sontak saja beliau marah dan bertanya dengan geram,

“kenapa kamu disini,,? Kamu kan kelas dua”

“saya tidak diterima dikelas dua sama teman-teman pak, mereka bilang saya ketinggalan” jawabku.

“ikut saya,,,,” beliau lalu menarik tanganku dan mengantarkanku ke kelas sebelah, kelas dua.

Setelah meminta izin pada guru yang mengajar di kelas dua, bapak kepala sekolah berdiri didepan kelas masih dengan menggandeng tanganku. Dengan tegas beliau menyampaikan kepada semua siswa kelas dua bahwa aku kelas dua, sehingga tidak boleh ada seorang pun yang mengusirku dari kelas. Sejak saat itu, aku duduk di kelas dua dan tidak lagi duduk dikelas satu. Aku kini sekelas dengan permanen bersama Auzin, Oji, dan teman-temanku yang lain. Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa saat itu aku duduk di dua kelas dengan tingkat yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Aku tidak paham kenapa aku dinyatakan naik kelas, padahal ada teman yang rangkingnya lebih baik dariku dinyatakan tidak naik kelas. Entahlah, aku tidak pernah mencari jawaban atas pertanyaan ini.

Sepeda jengki merah yang dibelikan bapak untukku sedikit tidak menumbuhkan kepercayaan diriku. Tampil beda dan akhirnya menjadi trendsetter. Setiap hariku kini tidak lagi harus berlari untuk mengejar teman-teman yang bersepeda. Aku tidak lagi terkucilkan, dengan itu aku menjadi bangga. Bapak mengatakan itu hadiah untukku, tapi aku tidak pernah tau hingga kini dalam rangka apa hadiah itu diberikan. Jika Auzin dan Oji mendapatkan hadiah sepeda, jelas karena saat itu mereka menjadi juara dikelas. Teman-temanku yang lain memiliki sepeda karena mereka merengek kepada orangtuanya untuk dibelikan sepeda. Tapi aku tidak, hadiah itu diberikan bukan karena aku juara, bukan pula karena aku meminta. Itu hanya hadiah untukku, hadiah sebagai bukti cinta bapak untukku. Hadiah yang diberikan untuk mengungkapkan betapa beliau mencintaiku,

Tuesday, 6 September 2011

Part 2.Ku Rindu Belaimu Ibu

Pagi itu begitu indah. Merahnya mentari baru saja menggantikan sinar penuh bulan purnama. Sungguh indah. Di tambah dengan suhu yang cukup dingin, memaksa siapapun yang tersadar untuk melindungi dirinya dengan jaket tebal, bahkan dengan selimut tebal yang saat itu hanya beberapa orang saja yang punya. Ketika itu, aku bangun cukup pagi, setidaknya aku lebih dulu bangun dari bapak dan kakak-kakakku. Ya, mereka memang jarang bangun pagi, sehingga salat subuh pun terkadang mereka lalai. Tapi ilmuku tak cukup banyak untuk menasehati siapapun saat itu, apa lagi orangtuaku sendiri.

Hari beranjak siang. Pelan tapi pasti, mentari pagi lenyap berganti terik matahari yang hangat. Ku lihat lalu lalang kesibukan orang yang mencari rezeki Tuhan yang berserakan di muka bumi. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, bahkan yang sudah uzur pun sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Anak-anak yang berseragam merah putih, atau putih hijau meramaikan desa kami. Mereka berangkat ke sekolah dengan begitu bersemangat. Mereka berangkat bergerombolan. Ada yang membawa tas kain untuk membawa bukunya, ada pula yang hanya menggunakan tas kresek untuk melindungi alat tulisnya, dan ada pula yang hanya membawa sebuah buku lecek tanpa tas. Tapi kebanyakan mereka tidak menggunakan sepatu. Jika di perhatikan satu persatu, kaki mereka kumal-kumal, dekil, dan sekali saja di garuk, bekasnya akan menimbulkan garis-garis putih di betis. Sehingga betis-betis mungil itu terlihat bagai kulit timun tua yang siap di manfaatkan petani sebagai benih timun pada musim tanam berikutnya. Aku hanya bisa memperhatikan dari tangga rumahku yang terbuat dari tanah yang berada di pinggir jalan tempat lalu lalangnya para generasi gemilang pelosok desa ini. Karena saat itu, usiaku memang belum cukup untuk dapat mengenakan seragam seperti mereka.

Ketika hari semakin siang, bintang-bintang kecil itu tak lagi menghiasi desa kami. Mereka sudah sibuk mendengarkan pelajaran dari guru-guru mereka di sekolah. Kini saatnya jalanan-jalanan desa kami di ramaikan oleh bapak-bapak tani yang menenteng cangkul dan sebuah kain di pundak pergi ke sawah mereka. Namun tidak bapakku. Kami memang tidak punya tanah yang bisa di garap. Setiap harinya bapakku menyibukkan diri dengan aktivitasnya sebagai tukang ojek. Berkali-kali aku melihatnya bolak-balik dengan menggonceng orang yang berbeda-beda. Sementara kakak-kakakku, semuanya pergi sekolah. Tinggallah aku dirumah seorang diri di temani sang ibu tiri. Tapi aku tak berani kalau harus ada di rumah sendiri dengan ibu tiriku. Jadi setiap hari aku pergi ke rumah bibikku untuk sekedar duduk di halaman rumahnya, meskipun rumah itu pun sepi. Tapi hari itu berbeda, rumah bi’ Semah tidak sepi. Disana aku melihat bi’ Semah sedang bermain dengan anaknya yang juga misanku yang sebaya denganku. Ya, aku biasa memanggilnya Oji. Sambil memakan sebuah apel besar yang berwarna merah, Oji di dorong oleh ibunya diatas sebuah sepeda plastik yang saat itu hanya bisa di miliki oleh orang kaya. Orangtua Oji memang kaya, ibunya adalah seorang pedagang yang lihai dan sukses. Sedangkan bapaknya adalah seorang kepala sekolah di desa lain. Ia setiap hari di suguhkan makanan-makanan yang mewah, yang biasanya di konsumsi orang kota.

Aku duduk di halaman rumah yang berupa tanah seperti biasa. Aku memandangi dua orang ibu dan anaknya begitu mesra dan bahagia. Sesekali bibir bi’ semah membasahi pipi Oji. Mereka tertawa dan terus saling menggoda. Kedua tanganku menopang beban wajahku, karena aku duduk bersila dengan ke dua tangan menopang dagu. Memandangi Oji yang begitu di manja ibunya. Terbersit Tanya dalam diriku, kapankah aku bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu seperti itu. Bi’ Semah beberapa kali melihatku. Tapi entahlah, hari ini sepertinya dia sedang tidak mau menegurku. Biasanya, setiap kali dia melihatku duduk di halaman rumahnya, dia akan memberiku, setidaknya sepotong pisang. Tapi hari ini tidak, bahkan seuntai senyum pun tak ku dapat darinya. Kemarin sore, dia memang ribut sama bapakku. Aku tak tahu persis apa sebabnya. Yang ku ingat, bi’ Semah sering kali menjadikan pemberian-pemberiannya kepadaku sebagai senjata untuk menyerang bapakku. Seolah bertaubat, hari ini bi’ Semah tidak mempedulikanku sama sekali. Bahkan sesekali aku melihat ia sengaja memamer-mamerkan makanan yang di makan Oji. Belum habis yang satu, makanan yang lain di keluarkan lagi dari dalam rumahnya, dan terus begitu, padahal Oji sendiri sudah kelihatan muak dengan makanan-makanan itu.

“ini nak, makan, biar kamu cepat besar dan pinter” kata bi’ Semah pada Oji Sambil menyodorkan sebuah apel merah besar.

“ngga’ bu’, Oji sudah kenyang, kasi Jihat aja ya…”jawab Oji

“ngga’ usah nak, dia kan punya bapak, nanti bapaknya yang kasih. Ia sudah kalo kamu ga’ mau makan, biar ibu buang aja ya”

Oji hanya mengangguk. Ya, dia sama sepertiku. Belum tahu apa-apa. Tapi dia semakin jauh dari tahu karena dia terlalu dimanja. Tidak sepertiku yang ketika itu merasa terhina. Terhina karena bibikku sendiri lebih memilih membuang makanan itu dari pada harus memberikannya padaku. Tapi bukan itu yang membuat aku menangis hari itu. Tapi aku menangis karena tidak bisa sekedar di dekap oleh ibuku. Setiap pagi aku harus pergi dari rumah, menghindar dari masalah. Kapankah di hari pagiku, aku merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu.

Iri. Mungkin kata itu tidak salah ditujukan padaku saat itu. Karena aku tidak seperti Oji yang setiap hari tidak pernah lepas dari dekapan sang bunda. Aku tidak tahu harus menuntut kepada siapa. Jangankan kasih sayang, yang sekedar mengawasiku setiap pagi pun tidak ada. Kakakku sibuk dengan sekolahnya. Dan bapakku sibuk mencari serpihan-serpihan logam untuk makan nanti siang. Sementara, ibu tiriku sibuk dengan dirinya sendiri dan menyiapkan makan siang untuk kami. Kalau pun aku harus diam di rumah, aku hanya akan menjadi sasaran kemarahan ibu tiriku apa bila ada kesalahan yang meskipun bukan aku yang membuat kesalahan itu.

“bu’ capek ah, Oji mau bobo’ …!!” kata Oji dengan nada memanja

“mmm… ia sudah, ayo turun..” kata Bi’ Semah sambil menawarkan kedua tangannya kearah Oji. Oji lalu menyambut tangan manis bundanya dan jadilah dia di gendong sang bunda untuk di tidurkan.

Aku belum beranjak dari tempat dudukku, bahkan posisiku pun tidak berubah sedikitpun. Aku berpikir jauh melebihi kapasitas kemampuan berpikir anak usia tiga tahun sepertiku. Aku tak tahu, apakah ini namanya merenung atau melamun. Yang ada dalam benakku adalah sosok sang bunda yang sedang memanjakanku persis seperti Oji di manja Ibunya. Atau, hanya sekedar menggendongku, lalu sesekali menciumku. Dalam benakku, kejadian dalam renungan ini bukanlah mimpi belaka, tapi adalah sebuah kepastian yang akan terjadi kelak. Meski aku tak tahu, kapan kata “kelak” itu berganti “sekarang”.

Puas melamun, aku berdiri dari tempat dudukku. Sudah cukup banyak air mata yang terurai hanya untuk merenung atau pun melamun di dekap bunda. Aku bangun dan meninggalkan rumah bi’ Semah. Lalu aku ke rumah Bi’ Aminah. Dia juga punya dua orang anak kecil yang sebaya denganku. Pipi, dan Rido. Sebenarnya Bi’ Aminah punya banyak anak, tapi semuanya sedah besar. Dan keadaan ekonomi Bi’ Aminah juga tak begitu baik. Saat aku kesana pagi itu, aku menyaksikan kisah lain yang jauh berbeda dari kisah Oji tadi. Rido sedang ngambek, lalu ia keluar dari dalam rumahnya dan kemudian melempari rumahnya sendiri dengan batu. Sementara ibunya mengomel dari dalam rumah. Aku tak tahu kenapa seperti ini. Ternyata hidup samaan dengan ibu tak selamanya menyenangkan. Buktinya Rido saja sampai melempari rumahnya sendiri, hanya gara-gara ia tidak dikasi uang belanja lebih oleh Ibunya. Aku jadi terpikir jika seandainya aku yang berkelahi dengan ibu. Tapi, cepat-cepat ku tepis pikiran jelek itu, karena ku tahu ibu sangat menyayangiku.

Saat matahari semakin perkasa. Setelah aku melewati pagi tanpa sarapan dan penuh pelajaran. Letih akhirnya menusuk tulang rusukku. Aku lalu memutuskan untuk pulang. Jam-jam siang seperti itu, biasanya ibu tiriku sudah tidur, jadi aku tidak perlu hawatir. Aku membaringkan tubuhku di atas karpet di teras tumahku, tempat biasa aku tidur. Ku usap keringatku dengan sarung yang ku kenakan dari pagi. Sarung yang selalu setia menemaniku. Yang ku gunakan duduk dan tidur di tanah, bahkan juga ku gunakan sebagai tempat membuang ludahku.

“woooooooiiiiiiiiiiiii” sebuah teriakan keras segera membuatku bergerak reflek bangkit dari baringku.

”gini ya, puas ngambar terus enak-enakan tidur” sambungnya masih dengan suara tinggi.

“mmm” aku hanya diam, tak tahu apa yang harus ku katakan

“udah, sekarang kamu masuk, bersihkan tempat tidurmu…!!”

Aku tak permasalahkan perintahnya, tapi yang ku permasalahkan adalah teriakannya. Meski aku belum mampu, bahkan belum ngerti apa itu “membersihkan”, tapi tetap ku jalankan perintahnya. Ku bersihkan tampat tidurku yang juga tempat tidur ke 3 kakakku, tempat tidur kami ber-empat yang hanya beralaskan sebuah karpet biru dan disekat oleh lemari. Ya, satu kamar yang bertembokkan lemari untuk kami ber-empat. Kamar kenangan dan sekaligus kamar perjuangan yang keberadaannya takkan pernah ku lupa sampai kapanpun. Penuh romantika dan luapan emosi. Tempat biasa ku teteskan air mata ketika aku sedang lara, atau ketika aku tak mampu membendung rasa rinduku kepada ibu. Seperti hari ini, air mata berjatuhan bagai Kristal dari mataku sambil membersihkan butir-butir debu yang masih menempel pada karpet dan bantal kami.

“assalamualaikumwarahmatullahiwabarokatuh” sebuah suara merdu menyejukkan sedikit menenangkan hatiku. Aku menanda suara itu. Suara yang sangat sering aku dengar, bahkan ketika aku pertama kali terlahir ke muka bumi ini. Ibuku datang dari kota mencariku, sungguh tak bisa ku gambarkan betapa senangnya hatiku saat itu. Saat hati ini sangat merindukannya. Ia datang karena panggilan jiwa. Jiwa yang selalu menyatukan hati seorang ibu dan anaknya.

Aku berlari menuju bunda, lalu ia menengadahkan kedua tangannya dan menggendongku. Lalu beberapa kali ia mencium pipiku yang kembung kempes dan kumal ini. Tak ku sangka, lamunanku tadi pagi menjadi kenyataan siang ini. Air mata terurai makin deras dari kelopak mataku, juga dari mata ibuku. Ku lihat kerinduan yang begitu dalam telah memerahkan matanya. Tak sedikit pun ku lepas dekapannya. Sudah lama ku rindu dekapan ini, baru kali ini kudapatkan. Ibu tiriku lalu keluar dari dapur dan menyaksikan drama mengharukan itu. Tapi entah karena apa, dia masuk kembali ke dapur dan tidak keluar lagi.

“assalamuaaikum…!!” salam dari kakakku itu membuat aku di turunkan oleh ibuku dari gendongannya

“ibu……….!!!!” Teriak kakakku, Dina. Dia baru saja kelas 2 SD. Ia berlari kencang dan menabrak tubuh ibuku lalu di peluk erat. Ibuku menyambut pelukannya, juga dengan kecupan. Sepertinya air mata haru hari ini tidak mampu lagi kami tahan, ku biarkan dia terurai dengan deras dari mataku, begitu pula dengan kak Dina dan ibuku.

“kamu apa kabar nak…???” Tanya ibu pada Dina

“Alhamdulillah baik bu’…” jawab Dina, mereka masih saling dekap dengan erat.

“assalamualaikum,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ibu.!!!” Kini k’ Heri dan k’ Agus yang teriak. Mereka pulang sekolah samaan, ya mereka sudah SMP saat itu, k’ Agus kelas 2 dan k’ Heri kelas 1. Mereka juga dipeluk, juga dengan backround tangisan haru.

Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Pertemuan hari ini benar-benar telah menyejukkan hati kami semua. Setelah puas melepas rindu dengan pelukan dan ciuman, kami lalu mengajak ibu untuk istirahat. Ia datang jauh dari Mataram ke Lombok Timur, tentu perjalanan yang melelahkan. Apa lagi harus menggunakan kendaraan umum yang baunya seperti racun yang siap menelan korban kapan saja. Tapi kami mengajaknya istirahat di rumah nenek yang kebetulan sangat dekat dengan rumah kami, karena di rumah kami yang juga mantan rumahnya itu tak cukup tempat untuk memberikannya layanan istirahat. Satu-satunya kamar yang menjadi kamarnya dulu kini di pake’ oleh ibu tiriku dengan anak-anaknya. Sambil istirahat, ibu menanyakan banyak hal tentangku. Namun aku tidak menceritakan semua dengan apa adanya, karena aku takut akan menjadi beban pikirannya.

“kapan ya, aku bisa kumpul ma ibu, ma bapak, terus ma kak Dina, kak Heri, dan kak Agus, ga’ usah ajak tu istrinya bapak yang sekarang tu…??” Tanyaku lugu.

“nak, percayalah, asal kita sering-sering berdo’a, itu pasti akan di kabulkan oleh Allah….” Kata ibu mencoba menenangkanku.

Sambil makan buah yang di bawa oleh ibu, kami larut dalam percakapan. Saat bapak pulang, ia cukup kaget melihat kedatangan ibuku. Ia lalu menyalaminya dan saling melempar senyum. Seandainya, aku bisa melihat ini setiap hari, pikirku. Bapak memahami kerinduan kami. Tak sedikitpun ia mengganggu pertemuan itu. Biasanya kami akan diminta untuk bekerja di siang hari, terutama kak Agus dan kak Heri. Tapi kali ini tidak, kami di biarkan memuaskan diri untuk bersama dengan ibu.